LEMBAGA LAYANAN PENDIDIKAN TINGGI
WILAYAH V YOGYAKARTA
Jalan Tentara Pelajar Nomor 13 Yogyakarta
IKUTI KAMI

Dosen

  • chevron_right
    Dokumen apa saja yang harus dilampirkan untuk mengusulkan kenaikan pangkat Dosen Non PNS?
    1. pengantar pimpinan PTS
    2. fotokopi SK pengangkatan dosen tetap yayasan
    3. print out NIDN
    4. fotokopi SK jabatan sekarang dan angka kreditnya  
    5. fotokopi SK jabatan sebelumnya dan angka kreditnya 
    6. fotokopi ijasah S2 dan atau S3 yang dilegalisir (bagi lulusan luar negeri harus ada penyetaraan dari Dikti/Kemristekdikti)
    7. surat ijin belajar/tugas belajar (termasuk pembebasan sementara, pengaktifan kembal, dan SP Setneg (bagi tugas belajar di luar negeri)
    8. fotokopi penilaian prestasi kerja PNS 2 (dua) tahun 
  • chevron_right
    Apa saja syarat-syarat untuk mengajukan SK inpassing (penyetaraan jabatan awal dosen non PNS)?
    1. pengantar pimpinan PTS
    2. fotokopi SK pengangkatan dosen tetap yayasan
    3. print out NIDN
    4. fotokopi SK jabatan fungsional dan angka kreditnya  
    5. fotokopi ijasah S1, S2 dan atau S3 yang dilegalisir (bagi lulusan luar negeri harus ada penyetaraan dari Dikti/Kemristekdikti)
  • chevron_right
    Apa saja syarat-syarat untuk mengajukan Masa Persiapan Pensiun (MPP)?
    1. pengantar pimpinan PTS (bagi dosen PNS)
    2. surat permohonan PNS ybs
    3. SK CPNS/PNS
    4. SK pangkat dan atau jabatan terakhir
    5. fotokopi kartu pegawai 
    6. fotokopi konversi NIP baru
       
  • chevron_right
    Dokumen apa saja yang harus dilampirkan untuk mengusulkan SK Pensiun bagi PNS?

    1.    Mengisi blangko daftar calon penerima pensiun*
    2.    Surat Permohonan pensiun 
    3.    Daftar riwayat hidup
    4.    Daftar susunan keluarga (disahkan kelurahan)
    5.    SK CPNS, Pengangkatan PNS
    6.    SK jabatan fungsional  terakhir
    7.    SK pangkat terakhir
    8.    Fotocopi KARPEG
    9.    Fotocopi Konversi  NIP yang dari BKN
    10.    Fotocopi kartu TASPEN
    11.    Fotocopi NPWP
    12.    Fotocopi ijazah S2, dst yang dilegalisir 
    13.    Fotocopi Kenaikan gaji berkala terakhir
    14.    Fotocopi DP3 1 (satu) tahun terakhir
    15.    Fotocopi KTP suami isteri yang dilegalisir 
    16.    Fotocopi kartu keluarga (KK) yang dilegalisir 
    17.    Fotocopi surat/kartu nikah yang dilegalisir
    18.    Fotocopi akte lahir anak yang dilegalisir kantor DUKCAPIL (bagi yang masih ada tanggungan anak)
    19.    Surat keterangan masih sekolah (bagi  yang masih mempunyai tanggungan anak sekolah)
    20.    Pasphoto  berwarna ukuran 3x4 sebanyak  7 lembar
    21.    Surat Pernyataan Bapertarum
    22.    Surat Pernyataan Pengembalian BMN
    23.    Surat Pernyataan Disiplin PNS
    24.    Surat Taspen
    25.    Akte Kematian/surat keterangan kematian yang dilegalisir (bagi yg meninggal)
    26.    Surat Keterangan Janda/Duda dari pemerintah setempat (bagi yg meninggal)
     

  • chevron_right
    Apa saja persyaratan untuk mengajukan Mutasi Masuk dari dosen PNS menjadi dosen Dpk di LLDIKTI?

    1.    Permohonan pindah kerja ke Menteri u.p. Kepala LLDIKTI Wilayah  V
    2.    Daftar Riwayat Hidup (sesuai Keputusan Kepala BKN No. 11 tahun 2002)
    3.    Surat pernyataan pribadi bermaterai Rp. 6.000,00 bahwa tidak sedang dalam proses perkara pidana 
    4.    Surat pernyataan pribadi  ber materai Rp. 6.000,00 yang menyatakan bahwa tidak sedang dalam proses upaya hukum berupa keberatan/banding administrasi atas hukuman tingkat berat
    5.    Surat pernyataan pribadi bermaterai Rp. 6.000,00 bahwa tidak sedang masa ikatan dinas dengan PTN/LLDIKTI  asal 
    6.    Surat pernyataan dari pimpinan PTN/kepala LLDIKTI asal tentang tidak sedang studi lanjut dengan status tugas belajar
    7.    Surat lolos butuh/kerelaan melepas dari PTN asal (jika dosen dpk,  maka dari pimpinan PTS dan LLDIKTI  asal)
    8.    Surat Pernyataan Kondite dari pimpinan PTN/kepala LLDIKTI asal yang berisi tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang/berat dalam 2 tahun terakhir
    9.    Salinan sah SK CPNS dan Pengangkatan PNS
    10.    Salinan sah SK jabatan fungsional dari awal s.d. terakhir 
    11.    Salinan sah SK pangkat dari awal s.d. terakhir
    12.    Salinan sah kenaikan gaji berkala terakhir
    13.    Fotocopi KARPEG (yang lama dan baru) dan KARIS/KARSU
    14.    Fotocopi Konversi dari NIP lama ke NIP baru (yang dikeluarkan oleh BKN)
    15.    Fotocopi kartu TASPEN
    16.    Fotocopi NPWP
    17.    Salinan sah KTP ybs, KTP suami/isteri, dan KK 
    18.    Salinan sah surat/akte pernikahan
    19.    Salinan sah akte kelahiran anak
    20.    Salinan sah ijazah dan transkrip nilai S1, S2, dst (kalau lulusan luar negeri harus ada penyetaraan dari DIKTI)
    21.    Surat tugas/ijin belajar S2 dan S3 (TERMASUK PEMBEBASAN DAN PENGAKTIFAN KEMBALI)
    22.    Surat pernyataan menerima dari pimpinan PTS yang dituju
    23.    Surat pernyataan menerima dari ketua yayasan yang menaungi  PTS yang dituju.
    24.    Surat keterangan rasio dosen dibanding mahasiswa dan rencana mata kuliah yang akan diampu dari PTS yang dituju
    25.    Fotocopi sertifikat pendidik (bagi yang sudah lulus serdos)
    26.    Penilaian Prestasi Kerja 2 thn terakhir baik
    27.    Penolakan tertulis dari min. 2 (dua) PTN yg mempunyai prodi sesuai pemohon
    28.    Surat kesehatan sehat jasmani dan rohani (minimal dari Rumah sakit pemerintah/RSUD tipe C)
    29.    Surat keterangan bebas narkoba (minimal dari Rumah sakit pemerintah/RSUD tipe C)
    30.    Pasphoto berwarna ukuran 3x4 cm sebanyak 7 lembar
     

  • chevron_right
    Syarat Mutasi Masuk PNS Non Dosen Menjadi Dosen Dpk di LLDIKTI Wilayah V

    1.    Permohonan pindah kerja ke Menteri u.p. Kepala LLDIKTI Wilayah  V
    2.    Daftar Riwayat Hidup (sesuai Keputusan Kepala BKN No. 11 tahun 2002)
    3.    Surat pernyataan pribadi bermaterai Rp. 6.000,00 bahwa tidak sedang dalam proses perkara pidana 
    4.    Surat pernyataan pribadi  ber materai Rp. 6.000,00 yang menyatakan bahwa tidak sedang dalam proses upaya hukum berupa keberatan/banding administrasi atas hukuman tingkat berat
    5.    Surat pernyataan pribadi bermaterai Rp. 6.000,00 bahwa tidak sedang masa ikatan dinas dengan instansi asal 
    6.    Surat pernyataan dari pimpinan instansi asal tentang tidak sedang studi lanjut dengan status tugas belajar
    7.    Surat lolos butuh/kerelaan melepas dari pimpinan kantor asal 
    8.    Surat lolos butuh/kerelaan melepas dari instansi induk asal, yang ditandatangani pejabat pembina kepegawaian 
    a.    instansi pusat untuk kementerian ditandatangani oleh menteri
    b.    instansi pusat untuk non kementerian ditandatangani oleh kepala (seperti jaksa agung, kapolri, kepala BPK, kepala BPS, dsb)
    c.    instansi daerah tingkat I/provinsi ditandatangi oleh gubernur
    d.    instansi daerah tingkat II/kotamadya/kabupaten ditandatangi oleh walikota/bupati
    5.    Surat Pernyataan Kondite dari instansi induk asal yang berisi tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang/berat dalam 2 tahun terakhir
    6.    Salinan sah SK CPNS dan Pengangkatan PNS
    7.    Salinan sah SK jabatan fungsional/struktural dari awal s.d. terakhir 
    8.    Salinan sah SK pangkat dari awal s.d. terakhir
    9.    Salinan sah kenaikan gaji berkala terakhir
    10.    Fotocopi KARPEG (yang lama dan baru) dan KARIS/KARSU
    11.    Fotocopi Konversi dari NIP lama ke NIP baru (yang dikeluarkan oleh BKN)
    12.    Fotocopi kartu TASPEN
    13.    Fotocopi NPWP
    14.    Salinan sah KTP ybs, KTP suami/isteri, dan KK 
    15.    Salinan sah surat/akte pernikahan
    16.    Salinan sah akte kelahiran anak
    17.    Salinan sah ijazah dan transkrip nilai S1, S2, dst (kalau lulusan luar negeri harus ada penyetaraan dari DIKTI)
    18.    Surat tugas/ijin belajar S2 dan S3 (TERMASUK PEMBEBASAN DAN PENGAKTIFAN KEMBALI)
    19.    Surat pernyataan menerima dari pimpinan PTS yang dituju
    20.    Surat pernyataan menerima dari ketua yayasan yang menaungi  PTS yang dituju.
    21.    Surat keterangan rasio dosen dibanding mahasiswa dan rencana mata kuliah yang akan diampu dari PTS yang dituju
    22.    Penilaian Prestasi Kerja 2 thn terakhir baik
    23.    Penolakan tertulis dari min. 2 (dua) PTN yg mempunyai prodi sesuai pemohon
    24.    Surat kesehatan sehat jasmani dan rohani (minimal dari Rumah sakit pemerintah/RSUD tipe C)
    25.    Surat keterangan bebas narkoba (minimal dari Rumah sakit pemerintah/RSUD tipe C)
    26.    Bagi yang menduduki pejabat eselon I dan II atau fungsional tingkat madya dan utama berusia maksimal 59 tahun 6 bulan
    27.    Bagi yang menduduki pejabat eselon III ke bawah atau fungsional ahli pertama ke bawah  berusia maksimal 57 tahun 6 bulan
    28.    Pasphoto berwarna ukuran 3x4 cm sebanyak 7 lembar
     

  • chevron_right
    Apa saja persyaratan untuk mengajukan Mutasi Masuk PNS Non Dosen menjadi PNS Non dosen di LLDIKTI Wilayah V?

    1.    Permohonan pindah kerja ke Menteri u.p. Kepala LLDIKTI Wilayah  V
    2.    Daftar Riwayat Hidup (sesuai Keputusan Kepala BKN No. 11 tahun 2002)
    3.    Surat pernyataan pribadi bermaterai Rp. 6.000,00 bahwa tidak sedang dalam proses perkara pidana 
    4.    Surat pernyataan pribadi  ber materai Rp. 6.000,00 yang menyatakan bahwa tidak sedang dalam proses upaya hukum berupa keberatan/banding administrasi atas hukuman tingkat berat
    5.    Surat pernyataan pribadi bermaterai Rp. 6.000,00 bahwa tidak sedang masa ikatan dinas dengan instansi asal 
    6.    Surat pernyataan dari pimpinan instansi asal tentang tidak sedang studi lanjut dengan status tugas belajar
    7.    Surat lolos butuh/kerelaan melepas dari pimpinan kantor asal 
    8.    Surat lolos butuh/kerelaan melepas dari instansi induk asal, yang ditandatangani pejabat pembina kepegawaian 
    a.    instansi pusat untuk kementerian ditandatangani oleh menteri
    b.    instansi pusat untuk non kementerian ditandatangani oleh kepala (seperti jaksa agung, kapolri, kepala BPK, kepala BPS, dsb)
    c.    instansi daerah tingkat I/provinsi ditandatangi oleh gubernur
    d.    instansi daerah tingkat II/kotamadya/kabupaten ditandatangi oleh walikota/bupati
    9.    Surat Pernyataan Kondite dari instansi induk asal yang berisi tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang/berat dalam 2 tahun terakhir
    10.    Salinan sah SK CPNS dan Pengangkatan PNS
    11.    Salinan sah SK jabatan fungsional/struktural dari awal s.d. terakhir 
    12.    Salinan sah SK pangkat dari awal s.d. terakhir
    13.    Salinan sah kenaikan gaji berkala terakhir
    14.    Fotocopi KARPEG (yang lama dan baru) dan KARIS/KARSU
    15.    Fotocopi Konversi dari NIP lama ke NIP baru (yang dikeluarkan oleh BKN)
    16.    Fotocopi kartu TASPEN
    17.    Fotocopi NPWP
    18.    Salinan sah KTP ybs, KTP suami/isteri, dan KK 
    19.    Salinan sah surat/akte pernikahan
    20.    Salinan sah akte kelahiran anak
    21.    Salinan sah ijazah dan transkrip nilai S1, S2, dst (kalau lulusan luar negeri harus ada penyetaraan dari DIKTI)
    22.    Surat tugas/ijin belajar S2 dan S3 (TERMASUK PEMBEBASAN DAN PENGAKTIFAN KEMBALI)
    23.    Penilaian Prestasi Kerja 2 thn terakhir baik
    24.    Surat kesehatan sehat jasmani dan rohani (minimal dari Rumah sakit pemerintah/RSUD tipe C)
    25.    Surat keterangan bebas narkoba (minimal dari Rumah sakit pemerintah/RSUD tipe C)
    26.    Pasphoto berwarna ukuran 3x4 cm sebanyak 7 lembar
     

  • chevron_right
    Dokumen apa saja yang harus dilampirkan untuk mengusulkan Pindah Homebase bagi Dosen Non PNS?

    1.    Surat Permohonan rekomendasi dari pimpinan perguruan tinggi baru.
    2.    SK Pemberhentian sebagai dosen tetap yang diterbitkan oleh yayasan pada perguruan tinggi lama.
    3.    SK Pengangkatan sebagai dosen tetap yang diterbitkan oleh perguruan tinggi baru.
    4.    Surat rekomendasi dari LLDIKTI asal (apabila yang bersangkutan dari LLDIKTI lain).
    5.    Fotokopi ijazah dilegalisir (S1 s.d. terakhir), dan bagi lulusan perguruan tinggi luar negeri agar disertakan SK penyetaraan ijazah dari Kemristekdikti.
    6.    Surat keterangan rasio dosen : mahasiswa dari program studi pada perguruan tinggi baru.
    7.    Surat keterangan mata kuliah yang diampu pada perguruan tinggi baru.
    8.    Surat pernyataan tidak sedang memproses usulan pindah homebase ke perguruan tinggi lain, bermaterai cukup.
    9.    Fotokopi prin-out NIDN.
    10.    Fotokopi SK Jafa terakhir, sertifikat pendidik (apabila sudah memiliki).
    11.    Surat Pernyataan Dosen Tetap, bermaterai cukup.
    12.    Fotokopi KTP
    13.    Untuk perpindahan antar PTS di lingkungan LLDIKTI Wilayah V, diperlukan tambahan persyaratan berupa :
    a.    Surat alasan perpindahan, dibuat oleh dosen yang bersangkutan.
    b.    Surat pernyataan kondite oleh perguruan tinggi lama.
    c.    Surat kesanggupan dari perguruan tinggi lama untuk mengangkat dosen pengganti apabila jumlah dosen kurang dari persyaratan minimal program studi.
     

  • chevron_right
    Apa saja dokumen pengusulan SK Tugas Belajar bagi Dosen DPK?

    1.    Surat Keputusan pengangkatan sebagai CPNS
    2.    Surat Keputusan pengangkatan sebagai PNS
    3.    Surat Keputusan kenaikan pangkat terakhir (bagi yang sudah pernah memperoleh kenaikan pangkat)
    4.    Surat Keputusan pengkatan dalam jabatan terakhir
    5.    Surat persetujuan penugasan ke luar negeri dari Sekretaris Negara RI (khusus untuk usulan SK TB ke luar negeri)
    6.    Surat jaminan memperoleh beasiswa atau keputusan pemberian beasiswa dari lembaga/ institusi pemberi beasiswa
    7.    Surat keputusan/ keterangan pengumuman lulus seleksi dari Perguruan Tinggi tempat pelaksaan tugas belajar
    8.    Surat keterangan dari pimpinan unit kerja mengenai bidang studi yang akan pengembangan organisasi
    9.    Surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter
    10.    Surat perjanjian tugas belajar
    11.    Penilaian prestasi kerja 2 (dua) tahun terakhir yang setiap unsur penilaiannya sekurang-kurangnya baik
    12.    Surat rekomendasi dari atasan langsung
    13.    Akta nikah (bagi yang sudah menikah)
    14.    Surat Keputusan dipekerjakan bagi PNS yang dipekerjakan
    15.    Surat Pernyataan yang memuat:
    a.    tidak sedang menjalankan cuti diluar tanggungan negara;
    b.    tidak sedang mengajukan upaya hukum keberatan ke Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK);
    c.    tidak sedang/ dalam proses penjatuhan hukuman disiplin tingkat sedang atau tingkat berat;
    d.    tidak sedang menjalani hukuman disiplin tingkat sedang atau tingkat berat;
    e.    tidak sedang dalam proses pidana, baik tindak pidana kejahatan ataupun pelanggaran;
    f.    tidak sedang melaksanakan kewajiban ikatan dinas (wajib kerja);
    g.    tidak sedang dalam melaksanakan pendidikan dan pelatihan penjenjangan;
    h.    tidak pernah gagal dalam tugas belajar yang disebabkan oleh kelalaiannya; dan,
    i.    tidak pernah dibatalkan mengikuti tugas belajar karena kesalahannya.
     

  • chevron_right
    Apa saja dokumen pengusulan SK Perpanjangan Tugas Belajar bagi Dosen DPK?

    1.    SK Tugas Belajar
    2.    Rekomendasi perpanjangan dari tempat studi
    3.    Rekomendasi perpanjangan dari unit kerja
    4.    SK Pangkat terakhir
    5.    SK Jabatan terakhir
    6.    SKP 2 tahun terakhir
    7.    Penjanjian perpanjangan Tugas Belajar
    8.    Jaminan pembiayaan perpanjangan studi
     

Mahasiswa dan Alumni PTS

  • chevron_right
    Apa saja syarat yang harus dipenuhi untuk mengajukan permohonan bantuan dana bantuan ORMAWA?

    Syarat Pemberian Bantuan Permberdayaan Organisasi Kemahasiswaan meliputi:

    1. Kegiatan    dilaksanakan    oleh    Organisasi    Kemahasiswaan (berdasarkan SK pimpinan Perguruan Tinggiyang berlaku) dengan sasaran mahasiswa Program Sarjana maupun Diploma yang terdaftar di PDDikti;
    2. Kegiatan Relevan dengan Ormawa Pengusul
    3. Ormawa yang mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi lain baik tingkat regional, nasional,maupun internasional, dengan buktiresmi dari penyelenggara;
    4. Sasaran Mahasiswa. (Siswa SMA / Masyarakat Umum hanya sebagai pelengkap).
    5. Ormawa yang mengikutikegiatan yang diselenggarakan oleh Asosiasi/Ikatan/Himpunan dengan menyertakan mahasiswa sejenis dari perguruan tinggi lain;
    6. Lingkup Kegiatan Regional, Nasional atau Internasional. 
    7. Anggaran dalam proposal tidak kurang dari Rp. 2.000.000 
    8. Kegiatan organisasi Kemahasiswaan yang bertaraf internasional minimal diikuti oleh 3 (tiga)Negara.
    9. Melampirkan salinan SK Pengurus Ormawa 
    10. Proposal yang telah disetujui pimpinan perguruan tinggi atau pimpinan bidang kemahasiswaan perguruan tinggi,dituangkan dalam lembar pengesahan;
  • chevron_right
    Bagaimana prosedur dari pengajuan hingga pencairan dana ORMAWA apabila disetujui?

    MEKANISME PENCAIRAN DANA ORMAWA

    1. Pengajuan proposal kegiatan dimulai sejak bulan Februari sampai dengan 31 Oktober 2019 dan proposal sudah diterima LLDIKTI Wilayah V selambat-lambatnya 30 (tigapuluh) hari sebelum akhir pelaksanaan kegiatan;
    2. Pengajuan  proposal  kepada  LLDIKTI Wilayah V disertakan surat pengantar dari pimpinan perguruan tinggi atau pimpinan bidang kemahasiswaan perguruan tinggi swasta ditujukan kepada Kepala LLDIKTI Wilayah V, cq. Kepala Subbagian Akademik dan Kemahasiswaan;
    3. Mengisi formulir dan meng-upload dokumen-dokumen yang dipersyaratkan diatas pada tautan http://gg.gg/BantuanOrmawaLLDIKTI5 dan harus sudah di submit paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal pelaksanaan kegiatan.
    4. Proposal yang disetujui pendanaannya, diberitahukan secara tertulis sekaligus memberitahukan kepada perguruan tinggi dan pelaksana untuk melengkapi persyaratan administrasi keuangan;
    5. Pencairan  dana  bantuan akan diberikan melalui rekening lembaga setelah diterbitkannya surat keputusan pemberian bantuan pemberdayaan organisasi kemahasiswaan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah V.
    6. Setelah persyaratan administrasi keuangan diterima, maka dana yang disetujui akan diproses melalui kwitansi dan berita acara pembayaran, dan dananya akan ditransfer oleh KPPN (Kementerian Keuangan) ke rekening perguruan tinggi pengusul (rekening lembaga).
    7. Organisasi kemahasiswaan  yang  mendapatkan bantuan,  wajib membuat dan menyerahkan laporan pelaksanaan kegiatan maksimal 30 (tigapuluh) hari setelah pelaksanaan kegiatan.
  • chevron_right
    Apa saja syarat yang harus dipenuhi untuk mendaftar Bidikmisi?

    Persyaratan untuk mendaftar tahun 2019 adalah sebagai berikut:

    1. Siswa SMA/SMK/MA atau bentuk lain yang sederajat yang akan lulus pada tahun 2019, memiliki identitas berupa NISN dan NPSN yang valid di PDSPK.
    2. Lulusan tahun 2018 yang bukan penerima Bidikmisi dan tidak bertentangan dengan ketentuan penerimaan mahasiswa baru di masing-masing perguruan tinggi;
    3. Usia paling tinggi pada saat mendaftar adalah 21 tahun;
    4. Tidak mampu secara ekonomi dengan kriteria: Siswa  Pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP)  atauPendapatan kotor gabungan orang Tua/Wali (suami istri) maksimal sebesar Rp4.000.000,00 per bulan dan atau pendapatan kotor gabungan orangtua/wali dibagi jumlah anggota keluarga maksimal Rp750.000,00 setiap bulannya.
    5. Pendidikan orang Tua/Wali setinggi-tingginya S1 (Strata 1) atau Diploma 4;
    6. Memiliki potensi akademik baik berdasarkan rekomendasi objektif dan akurat dari Kepala Sekolah;
    7. Pendaftar difasilitasi untuk memilih salah satu diantara PTN atau PTS dengan ketentuan:
    • PTN dengan pilihan seleksi masuk:
    • Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN);
    • Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMTPN);
    • Seleksi mandiri PTN.
    • Politeknik, UT, dan Institut Seni dan Budaya
    • PTS sesuai dengan pilihan seleksi masuk.
  • chevron_right
    Saya tidak memiliki prestasi, nilai rapor per semester naik turun, apakah diperkenankan mendaftar Bidikmisi?

    Persyaratan pendaftaran Bidikmisi tahun ini sama dengan Bidikmisi tahun lalu yang tidak menjabarkan prestasi, jadi asalkan Anda memenuhi syarat pendaftaran seleksi masuk, Anda bisa mendaftar Bidikmisi. Silahkan meminta pihak sekolah merekomendasikan Anda di laman pendaftaran Bidikmisi sesuai jadwal.

  • chevron_right
    Apakah Bidikmisi wajib direkomendasikan oleh Sekolah?

    Bagisiswa yang memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP) dapat langsung mendaftar di Sistem Bidikmisi, sedangkan rekomendasi sekolah wajib diberikan pada pendaftar bidikmisi untuk menjamin pendaftar tidak mampu secara ekonomi dan berpotensi akademik, baik dalam kasus luar biasa, seperti sekolah sudah tidak menyelenggarakan pendidikan, sekolah ada pada daerah bencana dan hal lainnya yang dianggap mendesak dan luarbiasa pendaftar bisa menghubungi panitia melalui bidikmisi@ristekdikti.go.id untuk diberikan solusi.

    Sekolah yang menolak merekomendasikan karena alasan apapun untuk calon pendaftar (baik yang akan lulus/alumni-1) yang memenuhi persyaratan dapat dilaporkan kepanitiake email bidikmisi@ristekdikti.go.id untuk dikoordinasikan. 
     

  • chevron_right
    Ada berapa kali penerimaan beasiswa PPA dalam setahun?

    Penerimaan beasiswa PPA diadakan dua kali dalam setahun pada tiap semesternya

  • chevron_right
    Apa saja Syarat yang harus dipenuhi untuk dapat mendaftar beasiswa PPA?
    1. Program Sarjana/Diploma Empat paling rendah pada semester II dan paling tinggi pada semester VI; Program Diploma Tiga paling rendah pada semester II dan paling tinggi pada semester IV
    2. Memilik Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) paling rendah 3,00.
       
  • chevron_right
    Berapa besaran beasiswa yang akan saya terima?

    Besarnya beasiswa tahun 2019 adalah Rp.400.000,00 (empat ratus ribu rupiah) per mahasiswa per bulan

  • chevron_right
    Surat keterangan apa saja yang diterbitkan di Subbagian Akademik dan Kemahasiswaan LLDIKITI Wilayah V?

    Surat Keterangan yang diterbitkan sub bagian akademik Kemahasiswaan meliputi:
    1. Surat Keterangan untruk  Pindah Perguruan Tinggi
    2. Surat Keterangan Lulusan Perguruan Tinggi (Alumni, dll)
    3. Surat Keterangan Pengganti (Ijazah, Daftar Nilai)
     

  • chevron_right
    Apa saja yang diperlukan untuk penerbitan surat Keterangan untuk pindah perguruan tinggi?

    1.    Surat Permohonan dari yang bersangkutan ditujukan kepada Kepala LLDIKTI Wilayah V
    2.    Foto copy Surat Keterangan Pindah Kuliah/ Pengunduran Diri dari Perguruan Tinggi Asal
    3.    Foto Copy Transkrip sementara dari Perguruan Tinggi Asal

  • chevron_right
    Apa saja yang diperlukan untuk penerbitan Surat Keterangan Lulusan Perguruan Tinggi (Alumni, dll)?

    1.    Surat Permohonan ditujukan kepada Kepala LLDIKTI Wilayah V
    2.    Data pendukung (Fotocopy ijazah, Fc Transkrip nilai)
    3.    Foto copy Surat Keterangan dari Perguruan Tinggi

  • chevron_right
    Apa saja yang diperlukan untuk penerbitan Surat Keterangan Pengganti (Ijazah, Daftar Nilai)?

    1.    Yang dapat dilayani hanyalah lulusan perguruan tinggi yang sudah dinyatakan tutup sesuai dengan SK Menteri.
    2.    Surat Permohonan ditujukan kepada Kepala LLDIKTI Wilayah V
    3.    Surat Keterangan hilang yang diterbitkan oleh pihak yang berwenang/ berwajib
    4.    Arsip Fotocopy Ijazah/Transkrip/Akta IV yang hilang tersebut. 

    Perlu kami informasikan bahwa sesuai dengan Permenristekdikti No 59 Tahun 2018, yang berwenang  menerbitkan Surat Keterangan Pengganti (Ijazah, Daftar Nilai) adalah Perguruan Tinggi yang bersangkutan. LLDIKTI Wilayah V hanya berwenang menerbitkan Surat Keterangan Pengganti untuk Perguruan Tinggi yang sudah tutup.
     

  • chevron_right
    Apa saja persyaratan untuk legalisasi Ijazah/transkrip/akta IV di LLDIKTI Wilayah V?
    1. Lulusan Perguruan Tinggi Swasta di lingkungan LLDIKTI d/h Kopertis Wilayah V Yogyakarta dari perguruan tinggi yang telah dinyatakan tutup oleh pihak yang berwenang dengan ijazah/ daftar nilai/akta/ surat keterangan pengganti yang ditandasahkan oleh Koordinator Kopertis Wilayah V 
    2. Dapat menunjukkan ijazah/ daftar nilai/ akta/ SKPI/ Surat Keterangan Pengganti  asli
    3. Diajukan oleh yang bersangkutan atau dikuasakan kepada orang lain
    4. Mengisi permohonan secara tertulis
       
  • chevron_right
    Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melegalisasi ijazah?

    Pemrosesan legalisasi selesai paling lama dalam 2 hari kerja (Catatan: Pejabat Penanda tangan tidak dinas luar)

  • chevron_right
    Berapa tarif/biaya legalisasi per lembar?

    Pelayanan tidak dipungut biaya

Pegawai

  • chevron_right
    Dokumen apa saja yang diperlukan untuk mengurus Kartu Indonesia Sehat (KIS)?
    1. Mengisi  formulir pendaftaran
    2. Foto kopi Kartu Keluarga/C1 yang dilegalisir
    3. Foto kopi Kartu Tanda Penduduk Suami/Isteri yang dilegalisir
    4. Foto kopi Akta Kelahiran Anak yang dilegalisir (untuk anak di atas 18 tahun masih sekolah/kuliah dan belum bekerja/menikah ditambah surat keterangan masih sekolah/kuliah)
    5. Foto kopi SK CPNS, PNS
    6. Foto kopi SK Pngkat/Jabatan terakhir
    7. Daftar Gaji  dan KP4 
       
  • chevron_right
    Apa saja syarat untuk mengajukan Cuti di Luar Tanggungan Negara bagi PNS?
    1. Masa kerja minimal 5 (lima) tahun
    2. Lama cuti di luar tanggungan negara maksimal 3 (tiga) tahun
    3. Surat permohonan dari yang bersangkutan 
    4. Surat pengantar dari pimpinan PTS
    5. Fotocopi SK Calon PNS dan  SK PNS;
    6. Fotocopi SK Pangkat/JabatanFungsional terakhir;
    7. Fotocopi Kartu Pegawai;
    8. Fotocopi Konversi NIP baru;
       
  • chevron_right
    Apa saja syarat untuk mengajukan Cuti Besar bagi PNS?

    1.    Masa kerja minimal 5 (lima) tahun, kecuali untuk menunaikan panggilan ibadah haji pertama kali
    2.    Lama cuti maksimal 3 (tiga) bulan
    3.    Permohonan dari yang bersangkutan, diketahui atasan langsung
     

  • chevron_right
    Syarat cuti sakit
    1. PNS yang sakit 1 (satu) hari menyampaikan surat keterangan sakit secara tertulis kepada atasan langsung dengan melampirkan surat keterangan dokter
    2. PNS yang sakit lebih dari 1 (satu) hari sampai dengan 14 (empat belas) hari berhak atas cuti sakit, dengan ketentuan bahwa PNS yang bersangkutan harus mengajukan permintaan secara tertulis kepada Pejabat Yang Berwenang Memberikan Cuti dengan melampirkan surat keterangan dokter
    3. PNS yang menderita sakit lebih dari 14 (empat belas) hari berhak atas cuti sakit, dengan ketentuan bahwa PNS yang bersangkutan harus mengajukan permintaan secara tertulis kepada Pejabat Yang Berwenang Memberikan Cuti dengan melampirkan surat keterangan dokter pemerintah (dokter yang berstatus PNS atau dokter yang bekerja pada unit pelayanan kesehatan pemerintah)
       
  • chevron_right
    Dokumen apa saja yang harus dilampirkan untuk mendapatkan Kartu Isteri (KARIS)/ Kartu Suami (KARSU)?

    1.    Laporan perkawinan pertama (LPP)/ Laporan perkawinan janda/duda 
    a.    Mengisi LPP/LPJD, benar dan sah 
    b.    LPP/LPJD ditandatangani oleh PNS yang bersangkutan 
    c.    Melampirkan salinan sah akta nikah/akta perkawinan dan dilegalisir
    d.    Bagi PNS yang mengisi LPJD harus melampirkan akta nikah/ akta cerai/ akta kematian
    2.    Pas photo hitam putih 2 X 3  sebanyak 3 lembar. 
    3.    Mengisi daftar keluarga 
    4.    SK CPNS/PNS
    5.    SK Pangkat/Jabatan terakhir
    6.    Kartu Pegawai (KARPEG)
    7.    Bagi PNS yang kehilangan Karis/Karsu untuk penggantian perlu melampirkan: 
    a.    Surat keterangan kehilangan dari kepolisian (asli) 
    b.    Laporan perkawinan pertama (LPP) atau laporan perkawinan janda/duda 
    c.    Pas photo terbaru ukuran 3 X 4 sebanyak 2 lembar
     

  • chevron_right
    Dokumen apa saja yang harus dilampirkan untuk mendapatkan Kartu Pegawai (KARPEG)?

    1.    Salinan sah Surat Keputusan Pengangkatan menjadi CPNS dan PNS. 
    2.    Surat tanda lulus pelatihan dasar (prajab)
    3.    Surat keterangan hilang dari kepolisian (asli) untuk penggantian karpeg yang hilang 
    4.    Pas photo terbaru ukuran 3 X 4 sebanyak 2 lembar. 
     

  • chevron_right
    Apa saja syarat-syarat untuk mengusulkan Kartu Taspen?

    1.    SK CPNS/PNS
    2.    Surat Pernyataan Menduduki Jabatan (SPMJ) dan Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas (SPMT)
    3.    Daftar Gaji  dan KP4 
     

  • chevron_right
    Dokumen apa saja yang harus dilampirkan untuk mengusulkan kenaikan pangkat PNS?

    1.    fotokopi SK CPNS/PNS 
    2.    fotokopi SK pangkat terakhir
    3.    fotokopi kartu pegawai 
    4.    fotokopi konversi NIP baru 
    5.    fotokopi SK jabatan sekarang dan angka kreditnya  
    6.    fotokopi SK jabatan sebelumnya dan angka kreditnya 
    7.    fotokopi ijasah S2 dan atau S3 yang dilegalisir (bagi lulusan luar negeri harus ada penyetaraan dari Dikti/Kemristekdikti)
    8.    surat ijin belajar/tugas belajar (termasuk pembebasan sementara, pengaktifan kembal, dan SP Setneg (bagi tugas belajar di luar negeri))
    9.    fotokopi penilaian prestasi kerja PNS 2 (dua) tahun 

PDDIKTI

  • chevron_right
    Apakah syarat yang diperlukan untuk mengajukan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN)?

    Syarat-syarat untuk mendapatkan NIDN baru yaitu menyampaikan dokumen scan pdf asli berwarna/legalisir cap basah :
    a.    KTP terbaru (format JPG/JPEG)
    b.    Foto ukuran 4x6 berwarna 
    c.    SK dosen tetap (SK PNS bagi pegawai negeri)
    d.    Ijazah lengkap (minimal pendidikan S2) – (SK Penyetaraan Ijasah bagi lulusan LN)
    e.    Surat Keterangan Sehat Rohani dari Rumah Sakit minimal tipe C
    f.    Surat Keterangan Sehat Jasmani dari Rumah Sakit minimal tipe C
    g.    Surat Keterangan Bebas Narkotika dari Rumah Sakit minimal tipe C
    h.    Surat Pernyataan dari Pimpinan PT tanda tangan, cap dinas dan bermaterai
    i.    Surat Keterangan Aktif Melaksanakan Tridharma PT
    j.    Surat Perjanjian Kerja


    Selanjutnya semua persyaratan tersebut diupload melalui operator PDDIKTI  Perguruan Tinggi ke laman https://forlap.ristekdikti.go.id atau https://pddikti.ristekdikti.go.id/ pada menu Pendidik - Registrasi Dosen Baru.

  • chevron_right
    Apakah syarat-syarat yang diperlukan untuk mengajukan Perubahan Data Mahasiswa (PDM)?

    Prosedur Perubahan Data Mahasiswa
    A. Persyaratan Umum:
    1. Mengajukan surat pengantar mengenai usulan perubahan data mahasiswa dari pimpinan Perguruan Tinggi melalui Wakil Rektor Bidang Akademik, Wakil Direktur Bidang Akademik, atau Wakil Ketua Bidang Akademik yang disertai alasan dilakukan perubahan data mahasiswa.
    2. KTP/KK scan asli berwarna

    B. Persyaratan Khusus :

    1. Nomor Induk Mahasiswa
    a. KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)
    b. Ijazah dan transkrip (jika sudah lulus)
    c. Kartu Hasil Studi (KHS)

    2. Nama Mahasiswa
    a. Akte Kelahiran atau surat kenal lahir atau kartu keluarga, atau ijazah
    b. KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)
    c. Ijazah dan transkrip (jika sudah lulus)

    3. Nama Ibu Kandung
    a. Akte Kelahiran atau surat kenal lahir atau kartu keluarga

    4. Tempat Lahir
    a. Akte Kelahiran atau surat kenal lahir atau kartu keluarga, atau ijazah
    b. KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)
    c. Ijazah dan transkrip (jika sudah lulus)

    5. Periode Pendaftaran
    a. Surat Penerimaan Mahasiswa

    6. Jenis Kelamin
    a. Kartu Tanda Penduduk asli dan berwarna atau
    b. Kartu Keluarga asli dan berwarna

  • chevron_right
    Bagaimana Prosedur Pembukaan Periode Pelaporan PDDIKTI

    Tipe 1 (Perbaikan Semua Data)

    1. Menyampaikan dokumen akademik (mulai dari semester awal masuk s/d semester terakhir) dalam bentuk hard dan softfile kepada Sub Bagian Akademik dan Kemahasiswaan LLDIKTI Wilayah V berupa :

    a. Surat Keterangan dari pimpinan PT tentang Permintaan Pembukaan Periode Pelaporan dan alasannya
    b. Formulir Penerimaan Mahasiswa Baru
    c. Bukti Pembayaran Kuliah  (per semester dari awal masuk mahasiswa/i)
    d. Absen Dosen/Mahasiswa (per mata kuliah)
    e. KTM
    f. Kartu Hasil Studi (KHS) per semester
    g. Berita Acara Ujian Tugas Akhir/Skripsi/Tesis/Disertasi (bagi yang sudah menempuh)
    h. Fotokopi ijazah dan transkrip (jika sudah lulus)
    i. SK Konversi/Penyetaraan dan Transkrip nilai dari PTS asal (bagi mahasiswa pindahan/alih jenjang)
    j. Bagi PTS dengan status alih bentuk menyampaikan dokumen dari poin 1 sampai 9 dari semester terakhir transaksi akademik di PTS lama sampai semester terakhir di PTS baru.

    k. Surat pernyataan bermaterai dari Pimpinan perguruan tinggi dan mahasiswa, yang menyatakan bahwa mahasiswa tersebut memang benar sedang/telah menempuh studi di perguruan tinggi. 

    Softfile berkas dibuat per file per poin diatas, dikelompokkan dalam satu folder per mahasiswa. Softfile dapat dikirimkan ke alamat email: lldikti5@ristekdikti.go.id dan di cc ke email akamawa.lldikti5@ristekdikti.go.id

    2. LLDIKTI akan melakukan verifikasi dan mencermati dokumen akademik pada butir nomor 1 diatas yang membuktikan bahwa mahasiswa tersebut benar-benar terdaftar dan aktif sebagai mahasiswa semenjak tahun masuk berikut perkembangan aktivitas perkuliahannya.

    3. Pejabat/Pelaksana yang ditunjuk di LLDIKTI membuat dan menandatangani Berita Acara Hasil Verifikasi Dokumen Akademik untuk memutuskan status tidak valid menjadi valid.

    4. Berita Acara Hasil Verifikasi Dokumen Akademik kemudian diupload oleh Operator PDDIKTI PTS di laman https://pddikti.ristekdikti.go.id/

    5. Admin PDDIKTI LLDIKTI memverifikasi keputusan pembukaan periode status tidak valid menjadi valid.

     

    Tipe 2 (Perbaikan Data Terbatas)

    1. Perguruan Tinggi membuat surat permohonan pembukaan periode tipe 2 kepada Kepala LLDIKTI Wilayah V DIY yang ditandatangani oleh minimal pimpinan bidang akademik PT.

    2. Isi surat mengandung nama program studi, program, semester yang akan dibuka, dan alasan pembukaan periode tipe 2  secara jelas dan rinci.

    3. Surat diupload di laman https://pddikti.ristekdikti.go.id/ pada menu pelaporan - pengajuan perbaikan pelaporan PDDIKTI

  • chevron_right
    Bagaimana Prosedur Migrasi Data Pada Perguruan Tinggi/Program Studi Alih Bentuk, Penggabungan, dan Lainnya yang Relevan

    Sesuai dengan SE Kapusdatin Kemristekdikt Nomor 11/P1.4/SE/2019 tanggal 3 Mei 2019, Langkah-langkah penanganan  migrasi  data  pada Perguruan Tinggi/Program  Studi yang melaksanakan perubahan bentuk, penggabungan,dan lainnya yang relevan sebagai berikut:langkah-langkah penanganan  migrasi  data  pada Perguruan Tinggi/Program  Studi yang melaksanakan perubahan bentuk, penggabungan,dan lainnya yang relevan sebagai berikut:

    1.   Perguruan   Tinggi  mengajukan  surat  permohonan   migrasi  ke  Kepala  Pusat  Data  dan Informasi  Iptek  Dikti.  Bagi  Perguruan  Tinggi  Swasta,  harus  disampaikan  ke  Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi terlebih dahulu;

    2.   Perguruan Tinggi telah menyelesaikan  pelaporannya  dibuktikan dengan mengisi chekpoint pelaporan   pada   PDDikti   Feeder (ditandatangani pimpinan PT dan cap dinas)   serta   membuat   surat   pernyataan (bermaterai)   yang   dilampirkan bersamaan dengan surat permohonan yang diajukan;

    3.    Status  Perguruan   Tinggi/Program   Studi  yang   akan   di  migrasi   telah   berstatus   tidak aktif/merger/alih bentuk (Menyampaikan surat permohonan untuk merubah status keaktifan PT/Prodi lama ke LLDIKTI WIlayah V);

    4.   Data hasil pelaporan pada Perguruan Tinggi sebelumnya akan dijadikan acuan untuk Pusat melakukan  migrasi.  Untuk migrasi data mahasiswa, data yang akan di migrasi  ialah data mahasiswa yang belum memiliki status keluar; dan

    5.    Setelah migrasi,  Pusat akan membuatkan  akun baru untuk kode Perguruan  Tinggi terbaru seperti pada surat permohonan akun pada lampiran I dan akun lama akan dinonaktifkan. (khusus PT alih bentuk/merger/tidak aktif)

Kerjasama

  • chevron_right
    Apakah syarat pendaftaran penggunaan aplikasi pelaporan kerjasama?

    Alamat tautan: http:// laporankerma.ristekdikti.go.id


    Berikut prosedur pendaftaran penggunaan Aplikasi Pelaporan Kerja Sama :

    • Sesuai dengan Surat Edaran LLDIKTI Wilayah V Nomor : 1651/L5/SE/2019 tanggal 02 Mei 2019. Perguruan Tinggi di Lingkungan LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta  untuk menyampaikan permohonan penggunaan aplikasi Laporan Kerja Sama Perguruaan Tinggi secara daring melalui tautan berikut ini :  http://tiny.cc/kermalldikti5

Gaji dan Tunjangan

  • chevron_right
    Bagaimana ketentuan pemberian Tunjangan Suami/Istri ?

    Yang dimaksud dengan tunjangan istri/suami adalah tunjangan yang diberikan kepada pegawai negeri yang beristeri/suami. Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan tunjangan isteri/suami adalah :

    1. diberikan untuk 1 (satu) istri/suami pegawai negeri yang sah
    2. besarnya tunjangan isteri/suami adalah 10 persen dari gaji pokok
  • chevron_right
    Bagaimana prosedur pengajuan Tunjangan Suami/Istri ?
    1. Pegawai yang bersangkutan membawa FC Akta Nikah dilegalisir pejabat yang berwenang 1 lembar
    2. Subbag Perencanaan dan Penganggaran mencetak form KP4
    3. Pegawai yang bersangkutan melengkapi tanda tangan form KP4 (yang bersangkutan dan pimpinan PTS)
    4. Pegawai yang bersangkutan mengembalikan form KP4 ke Subbag Perencanaan dan Penganggaran
  • chevron_right
    Bagaimana ketentuan pemberian Tunjangan Anak ?

    Yang dimaksud dengan tunjangan anak adalah tunjangan yang diberikan kepada pegawai negeri yang mempunyai anak (anak kandung, anak tiri dan anak angkat) dengan ketentuan :

    1. belum melampaui batas usia 21 tahun;
    2. tidak atau belum pernah menikah;
    3. tidak mempunyai penghasilan sendiri; dan
    4. nyata menjadi tanggungan pegawai negeri yang bersangkutan
    5. maksimal diberikan untuk 2 anak
    6. besarnya tunjangan anak adalah 2% per anak dari gaji pokok
  • chevron_right
    Bagaimana prosedur pengajuan Tunjangan Anak ?
    1. Pegawai yang bersangkutan membawa FC Akta Kelahiran Anak dilegalisir pejabat yang berwenang 1 lembar
    2. Subbag Perencanaan dan Penganggaran mencetak form KP4
    3. Pegawai yang bersangkutan melengkapi tanda tangan form KP4 (yang bersangkutan dan pimpinan PTS)
    4. Pegawai yang bersangkutan mengembalikan form KP4 ke Subbag Perencanaan dan Penganggaran
    5. Untuk anak yang berusia 2125 tahun melampirkan surat keterangan kuliah dan diperbaharui setiap tahun
    6. Jika anak telah lulus kuliah segera menyerahkan FC Ijazah / Surat Keterangan Lulus agar tunjangan anak bisa dihapus (untuk menghindari pengembalian ke kas negara)
  • chevron_right
    Bagaimana jika pegawai bercerai ?

    Pegawai yang bersangkutan wajib menyerahkan FC Akte Perceraian dilegalisir pejabat yang berwenang segera setelah Akte Perceraian terbit (1 lembar) untuk kemudian dihapus tunjangan suami/istrinya.

  • chevron_right
    Bagaimana jika pegawai meninggal dunia ?
    1. Ahli waris dari pegawai yang meninggal segera melaporkan dengan menyerahkan FC Surat/Akte Kematian yang dilegalisir pejabat berwenang
    2. Pegawai yang meninggal masih berhak atas Gaji Terusan selama 4 kali terhitung dari bulan pertama setelah tanggal kematian
    3. Pegawai yang meninggal berhak atas Uang Duka Wafat yang pembayarannya melalui PT. Taspen
  • chevron_right
    Bagaimana jika suami/istri/anak kandung pegawai meninggal dunia ?

    Pegawai yang bersangkutan wajib menyerahkan FC Surat Kematian / Akte Kematian yang dilegalisir pejabat berwenang sesegera mungkin untuk kemudian dihapus tunjangan suami/istri/anaknya

  • chevron_right
    Kapan waktu pencairan Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan ?

    Jadwal Pencairan Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan dilakukan setiap bulan, yaitu pada bulan berikutnya (Misal Tunjangan Profesi Dosen bulan Januari dibayarkan di akhir bulan Februari)

  • chevron_right
    Berapa besaran Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan ?
    1. Tunjangan Profesi Dosen PNS sebesar 1x Gaji Pokok PNS yang bersangkutan
    2. Tunjangan Profesi Dosen Non PNS sebesar 1x Gaji Pokok PNS sesuai SK Inpassingnya
    3. Tunjangan Kehormatan PNS sebesar 2x Gaji Pokok PNS yang bersangkutan
    4. Tunjangan Kehormatan Non PNS sebesar 2x Gaji Pokok PNS sesuai SK Inpassingnya
  • chevron_right
    Jika terdapat perubahan gaji pokok (Kenaikan Pangkat, Kenaikan Gaji Berkala) apakah Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan ikut disesuaikan ?

    Penyesuaian atas perubahan gaji pokok dilakukan mulai bulan Januari tahun anggaran berikutnya karena terkait dengan ketersediaan anggaran dalam DIPA.

  • chevron_right
    Saya sedang menempuh Tugas Belajar Luar Negeri, bagaimana tunjangan fungsional saya ?

    Tunjangan fungsional dosen yang sedang menempuh Tugas Belajar Luar Negeri dihentikan mulai bulan ke-7 (tujuh) dari tanggal mulai studinya.

  • chevron_right
    Saya akan segera pensiun, bagaimana cara mengurus Surat Keterangan Penghentian Pembayaran (SKPP) ?
    1. SKPP bisa dibuat setelah terbit SK Pensiun PNS dan semua pembayaran kepada Pegawai yang bersangkutan selesai (misal uang makan, rapelan gaji, tunjangan serdos).
    2. Dokumen yang diperlukan adalah FC SK Pensiun PNS (sudah ada di Subbag HKT, Pegawai yang bersangkutan tidak perlu mengumpulkan)
  • chevron_right
    Bagaimana prosedur permintaan surat keterangan gaji/penghasilan ?

    Pegawai yang bersangkutan dapat mengajukan permintaan surat keterangan gaji/penghasilan via Telepon atau langsung datang ke Unit Layanan Terpadu LLDikti Wilayah V Loket Subbag Perencanaan dan Penganggaran.

  • chevron_right
    Bagaimana cara mengurus pensiun dan Tabungan Hari Tua (THT) saya ?

    Silakan menghubungi PT Taspen untuk informasi lebih lanjut atau bisa mengakses klaim Taspen secara online di tautan ini : http://e-klim.taspen.com/mservices/JKK/login.php

  • chevron_right
    Bagaimana cara melaporkan pajak penghasilan dari gaji dan tunjangan profesi dosen saya di LLDikti Wilayah V ?

    Pelaporan pajak dapat dilakukan melalui e-filing berdasarkan formulir 1721-A2 dan bukti potong pajak atas tunjangan profesi yang bisa diperoleh di Sub Bagian Perencanaan dan Penganggaran LLDikti Wilayah V

  • chevron_right
    Saya tidak ingat password e-filing bagaimana solusinya ?

    Gunakan fitur “reset password” kemudian isikan NPWP, EFIN dan kode keamanan.

  • chevron_right
    Saya juga lupa kode EFIN saya, apa yang harus dilakukan ?

    Silakan memanfaatkan layanan Ditjen Pajak melalui :

    1. Twitter @kring_pajak
    2. Livechat di situs www.pajak.go.id
    3. Call Center Kring Pajak 1500 200
    4. Datang ke Kantor Pelayanan Pajak terdekat

Pendirian Perguruan Tinggi

  • chevron_right
    Apa yang dimaksud dengan pendirian Perguruan Tinggi Negeri ?

    Pendirian Perguruan Tinggi Negeri yang selanjutnya disebut Pendirian PTN adalah pembentukan universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, dan akademi oleh Pemerintah.

  • chevron_right
    Apa yang dimaksud dengan pendirian Perguruan Tinggi Swasta?

    Pendirian Perguruan Tinggi Swasta yang selanjutnya disebut Pendirian PTS adalah pembentukan universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, dan akademi oleh Badan Penyelenggara berbadan hukum yang berprinsip nirlaba.

  • chevron_right
    Apa yang dimaksud dengan Universitas?

    Universitas menyelenggarakan jenis pendidikan akademik, dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi, dan/atau profesi dalam berbagai rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi, melalui program sarjana, program magister, program doktor, program diploma tiga, program diploma empat atau sarjana terapan, program magister terapan, program doktor terapan, dan/atau program profesi yang terdiri atas paling sedikit 10 (sepuluh) Program Studi pada program sarjana yang mewakili 6 (enam) Program Studi dari rumpun ilmu alam, rumpun ilmu formal, dan/atau rumpun ilmu terapan yang meliputi pertanian, arsitektur dan perencanaan, teknik, kehutanan dan lingkungan, kesehatan, dan transportasi, serta 4 (empat) Program Studi dari rumpun ilmu agama, rumpun ilmu humaniora, rumpun ilmu sosial, dan/atau rumpun ilmu terapan yang meliputi bisnis, pendidikan, keluarga dan konsumen, olahraga, jurnalistik, media massa dan komunikasi, hukum, perpustakaan dan permuseuman, militer, administrasi publik, dan pekerja sosial.

  • chevron_right
    Apa yang dimaksud dengan Institut?

    Institut menyelenggarakan jenis pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dan/atau profesi dalam sejumlah rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi tertentu, melalui program sarjana, program magister, program doktor, program diploma tiga, program diploma empat atau sarjana terapan, program magister terapan, program doktor terapan, dan/atau program profesi yang terdiri atas paling sedikit 6 (enam) Program Studi pada program sarjana;

  • chevron_right
    Apa yang dimaksud dengan Sekolah Tinggi?

    Sekolah Tinggi menyelenggarakan jenis pendidikan akademik, dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi, dan/atau profesi dalam 1 (satu) rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tertentu, melalui program sarjana, program magister, program doktor, program diploma tiga, program diploma empat atau sarjana terapan, program magister terapan, program doktor terapan, dan/atau program profesi yang terdiri atas paling sedikit 1 (satu) Program Studi pada program sarjana.

  • chevron_right
    Apa yang dimaksud dengan Politeknik?

    Politeknik menyelenggarakan jenis pendidikan vokasi dan dapat menyelenggarakan pendidikan profesi dalam berbagai rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi, melalui program sarjana, program magister, program doktor, program diploma tiga, program diploma empat atau sarjana terapan, program magister terapan, program doktor terapan, dan/atau program profesi yang terdiri atas paling sedikit 3 (tiga) Program Studi pada program diploma tiga dan/atau program diploma empat atau sarjana terapan.

  • chevron_right
    Apa yang dimaksud dengan Akademi?

    Akademi menyelenggarakan jenis pendidikan vokasi dalam 1 (satu) atau beberapa cabang ilmu pengetahuan dan teknologi tertentu, melalui program diploma satu, program diploma dua, program diploma tiga, dan/atau program diploma empat atau sarjana terapan, yang terdiri atas paling sedikit 1 (satu) Program Studi pada program diploma tiga.

  • chevron_right
    Apa saja dokumen persyaratan pendirian Perguruan Tinggi Negeri?

    Khusus pendirian PTN bukan penegerian

    1. Studi Kelayakan;
    2. rekomendasi pemerintah daerah provinsi dan 
kabupaten/kota
    3. rancangan susunan organisasi dan tata kerja;
    4. rancangan semua Program Studi;
    5. kurikulum disusun berdasarkan kompetensi lulusan 
sesuai standar nasional pendidikan tinggi;
    6. dosen paling sedikit berjumlah 6 (enam) orang untuk setiap Program Studi pada program diploma atau program sarjana, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan, dengan kualifikasi:
      1. paling rendah berijazah:
a) magister, magister terapan, subspesialis, atau 
yang setara untuk program diploma; dan
b) magister atau subspesialis untuk program 
sarjana,
dalam cabang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan Program Studi yang akan didirikan; 

      2. berusia paling tinggi 58 (lima puluh delapan) tahun dalam hal telah berstatus Pegawai Negeri Sipil, atau belum berusia 35 (tiga puluh lima) tahun dalam hal belum berstatus Pegawai Negeri Sipil, pada saat diterima sebagai dosen pada PTN yang akan didirikan; 

      3. bersedia bekerja penuh waktu selama 40 (empat puluh) jam per minggu; 

      4. belum memiliki Nomor Induk Dosen Nasional atau Nomor Induk Dosen Khusus; dan 

      5. bukan guru yang telah memiliki Nomor Urut Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan/atau bukan pegawai tetap pada satuan administrasi pangkal instansi lain. 

    7. tenaga kependidikan paling sedikit berjumlah 3 (tiga) orang untuk melayani setiap Program Studi pada program diploma atau program sarjana, dan 1 (satu) orang untuk melayani perpustakaan, dengan kualifikasi:
      1. paling rendah berijazah diploma tiga;
      2. berusia paling tinggi 58 (lima puluh delapan) tahun dalam hal telah berstatus Pegawai Negeri Sipil, atau belum berusia 35 (tiga puluh lima) tahun dalam hal belum berstatus Pegawai Negeri Sipil, pada saat diterima sebagai tenaga kependidikan pada PTN yang akan didirikan; 

      3. bersedia bekerja penuh waktu selama 40 (empat puluh) jam per minggu; 

    8. Dosen dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada huruf f dan huruf g, disediakan oleh Pemerintah melalui pengangkatan pada PTN terdekat sampai pembentukan PTN baru ditetapkan.
    9. organisasi dan tata kerja PTN disusun sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 

    10. lahan untuk kampus PTN yang akan didirikan berada dalam 1 (satu) lokasi memiliki luas yang paling sedikit:
      1. 30 (tiga puluh) hektar untuk Universitas atau 
Institut; atau 

      2. 10 (sepuluh) hektar untuk Sekolah Tinggi, 
Politeknik, atau Akademi; 


    dengan status Hak Pakai atas nama Pemerintah sebagaimana dibuktikan dengan Sertipikat Hak Pakai; 


    1. Apabila lahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf 
e disediakan oleh pemerintah provinsi dan/atau kabupaten/kota dengan status Hak Pakai, lahan tersebut harus sudah dihibahkan kepada Pemerintah;
    1. telah memiliki sarana dan prasarana terdiri atas:
    1. ruang dosen tetap paling sedikit 4 (empat) meter 
persegi per orang; 

    2. ruang administrasi dan kantor paling sedikit 4 
(empat) meter persegi per orang; 

    3. ruang perpustakaan paling sedikit 200 (dua ratus) 
meter persegi termasuk ruang baca yang harus dikembangkan sesuai dengan pertambahan jumlah mahasiswa; 

    4. buku paling sedikit 200 (dua ratus) judul per Program Studi sesuai dengan bidang keilmuan pada Program Studi; 

    5. koleksi atau akses paling sedikit 1 (satu) jurnal dengan volume lengkap untuk setiap Program Studi; dan 

    6. ruang laboratorium, komputer, dan sarana praktikum dan/atau penelitian sesuai kebutuhan setiap Program Studi;

    kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan.
(3) Pemenuhan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

     

  • chevron_right
    Bagaimana prosedur pendirian Perguruan Tinggi Negeri?
    1. a.    Direktur Jenderal melakukan evaluasi kelayakan dan menyusun dokumen persyaratan; 
      b.    Direktur Jenderal menyampaikan dokumen usul Pendirian PTN sebagaimana dimaksud pada huruf a untuk mendapat persetujuan Menteri; 
      c.    Menteri menyampaikan dokumen usul Pendirian PTN sebagaimana dimaksud pada huruf b kepada menteri yang bertanggungjawab di bidang pendayagunaan aparatur negara untuk memperoleh persetujuan;
      d.    Menteri menetapkan pendirian, organisasi, dan tata kerja PTN yang berbentuk sekolah tinggi, politeknik, dan akademi berdasarkan persetujuan menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara; 
      e.    Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara mengusulkan Pendirian PTN yang berbentuk universitas dan institut kepada Presiden untuk mendapatkan penetapan; 
      f.    Menteri menetapkan organisasi dan tata kerja PTN yang berbentuk universitas dan institut berdasarkan persetujuan menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara. 
      g.    PTN dapat menjalankan kegiatan akademik setelah mendapatkan penetapan sebagaimana dimaksud pada huruf e.

     

  • chevron_right
    Apa saja dokumen persyaratan pendirian Perguruan Tinggi Swasta?
    1. Surat usul pendirian PTS yang disusun oleh Badan Penyelenggara dari PTS yang akan didirikan dialamatkan kepada Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti;
    2. Akta Notaris Pendirian Badan Penyelenggara dari PTS yang akan didirikan beserta semua perubahan yang telah dilakukan;
    3. Surat Keputusan dari pihak yang berwenang tentang pengesahan Badan Penyelenggara sebagai badan hukum dari PTS yang akan didirikan;
    4. Memenuhi syarat minimum akreditasi prodi dan perguruan tinggi sesuai standar nasional pendidikan tinggi;
    5. Instrumen akreditasi pendirian perguruan tinggi dari BAN-PT yang sudah diisi oleh Badan Penyelenggara;
    6. Instrumen akreditasi pembukaan prodi dari BAN-PT yang sudah diisi oleh Badan Penyelenggara (satu Instrumen Pembukaan Prodi untuk setiap prodi);
    7. Program Diploma yang akan dibuka di dalam Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi yang akan didirikan:
      1. paling banyak 10 (sepuluh) persen dari jumlah Program Sarjana; dan
      2. tidak menyelenggarakan prodi sebidang dengan prodi pada Program Diploma di Politeknik dan/atau Akademi yang berdomisili di dalam kota atau kabupaten yang sama dengan Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi yang akan didirikan;
    8. Kurikulum disusun berdasarkan kompetensi lulusan sesuai standar nasional pendidikan tinggi;
    9. Dosen paling sedikit berjumlah 6 (enam) orang untuk setiap program studi pada Program Diploma atau Program Sarjana, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan, dengan kualifikasi:
      1. paling rendah berijazah Magister atau Magister Terapan atau Spesialis I untuk Program Diploma, dan Magister atau Spesialis I untuk Program Sarjana, dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebidang dengan program studi yang akan didirikan;
      2. berusia paling tinggi 58 (lima puluh delapan) tahun pada saat diterima sebagai dosen pada PTS yang akan didirikan;
      3. bersedia bekerja penuh waktu sebagai dosen tetap selama 40 (empat puluh) jam per minggu;
      4. belum memiliki Nomor Induk Dosen Nasional atau Nomor Induk Dosen Khusus;
      5. bukan guru yang telah memiliki Nomor Urut Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan/atau bukan pegawai tetap pada satuan administrasi pangkal instansi lain; dan
      6. bukan Pegawai Negeri Sipil/Aparatur Sipil Negara;
    10. Tenaga Kependidikan paling sedikit berjumlah 3 (tiga) orang untuk melayani setiap program studi pada Program Diploma atau Program Sarjana, dan 1 (satu) orang untuk melayani Perpustakaan, dengan kualifikasi:
      1. paling rendah berijazah Diploma Tiga;
      2. berusia paling tinggi 58 (lima puluh delapan) tahun pada saat diterima sebagai tenaga kependidikan pada PTS yang akan didirikan; dan
      3. bersedia bekerja penuh waktu selama 40 (empat puluh) jam per minggu;
    11. Studi kelayakan pendirian PTS beserta Lampiran yang disusun oleh Badan Penyelenggara dari PTS yang akan didirikan;
    12. Organisasi dan tata kerja PTS memiliki 5 (lima) unsur, yaitu:
      1. penyusun kebijakan;
      2. pelaksana akademik;
      3. pengawas dan penjaminan mutu;
      4. penunjang akademik atau sumber belajar; dan 

      5. pelaksana administrasi atau tata usaha. 

    13. Sertifikat status lahan calon kampus PTS atas nama Badan Penyelenggara dari PTS yang akan didirikan, atau perjanjian sewa menyewa lahan. Lahan untuk kampus PTS yang akan didirikan berada dalam 1 (satu) lokasi memiliki luas paling sedikit:
      1. 10.000 (sepuluh ribu) m2 untuk Universitas;
      2. 8.000 (delapan ribu) m2 untuk Institut;
      3. 5.000 (lima ribu) m2 untuk Sekolah Tinggi, Politeknik, atau Akademi;

    dengan status Hak Milik atau Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai atas nama Badan Penyelenggara, sebagaimana dibuktikan dengan Sertifikat Hak Milik atau Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai. Dalam hal status hak atas lahan belum atas nama Badan Penyelenggara, diperkenankan membuat perjanjian sewa menyewa lahan dengan pihak pemegang hak atas lahan, dengan ketentuan:

      1. luas lahan sebagaimana disebutkan di atas;
      2. perjanjian sewa menyewa dibuat di hadapan notaris;
      3. memuat hak opsi, yaitu hak prioritas membeli lahan tersebut apabila lahan dijual oleh pemegang hak atas lahan;
      4. jangka waktu sewa paling lama 10 (sepuluh) tahun sejak pengesahan Rancangan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tentang Pendirian, Perubahan, Dan Pembubaran Perguruan Tinggi Negeri Serta Pendirian, Perubahan, dan Pencabutan Izin Perguruan Tinggi Swasta;
    1. Menyediakan sarana dan prasarana terdiri atas:
      1. Ruang kuliah paling sedikit 0,5 (nol koma lima) m2 per mahasiswa;
      2. Ruang dosen tetap paling sedikit 4 (empat) m2 per orang;
      3. Ruang administrasi dan kantor paling sedikit 4 (empat) m2 per orang;
      4. Ruang perpustakaan paling sedikit 200 (dua ratus) m2 termasuk ruang baca yang harus dikembangkan sesuai dengan pertambahan jumlah mahasiswa;
      5. Buku paling sedikit 200 (dua ratus) judul per program studi sesuai dengan bidang keilmuan pada program studi;
      6. Memiliki koleksi atau akses paling sedikit 1 (satu) jurnal dengan volume lengkap untuk setiap Program Studi; dan
      7. Ruang laboratorium, komputer, dan sarana praktikum dan/atau penelitian sesuai kebutuhan setiap Program Studi;

    kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan.

    • Laporan Keuangan Badan Penyelenggara;
    • Surat bukti kepemilikan dana Badan Penyelenggara;
    • Rekomendasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2 Dikti) di wilayah PTS yang akan didirikan; dan
    • Surat pernyataan telah berkoordinasi dengan organisasi profesi dari organisasi profesi terkait (bila disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan).

    Dokumen yang memuat persyaratan pendirian PTS dibuat dengan format pdf yang harus diunggah ke laman: silemkerma.risktekdikti.go.id.

     

  • chevron_right
    Bagaimana prosedur pendirian Perguruan Tinggi Swasta?
    1. Badan penyelenggara yang akan mendirikan PTS meminta rekomendasi L2 Dikti di wilayah PTS akan didirikan. Dalam hal L2 Dikti belum terbentuk di wilayah di mana PTS akan didirikan, maka tugas dan fungsinya masih dijalankan oleh Kopertis wilayah tersebut.
    2. Badan Penyelenggara yang akan mendirikan PTS menyiapkan dan menyusun dokumen sesuai persyaratan.
    3. Direktur Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti menugaskan Tim Evaluator untuk melakukan evaluasi dan verifikasi dokumen secara digital.
    4. Tim Evaluator dapat memberikan rekomendasi untuk presentasi usul pendirian PTS oleh pengusul pada waktu yang diberitahukan secara online oleh Direktorat Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti.

    Presentasi usul pendirian PTS dilakukan oleh Ketua Pengurus Badan Penyelenggara (tidak dapat diwakilkan) didampingi oleh para anggota Pengurus lainnya di hadapan Tim Evaluator, dengan susunan acara sebagai berikut:

      • Pembukaan oleh Tim Evaluator;
      • Presentasi ringkasan Studi Kelayakan oleh Ketua Pengurus Badan Penyelenggara disajikan dalam bentuk slide presentasi;
      • Diskusi dan tanya jawab dengan Tim Evaluator.
    1. Setelah presentasi, Tim Evaluator dapat memberikan rekomendasi untuk dilakukan visitasi. Pemberitahuan jadwal visitasi kepada Pengusul dilakukan secara online.

    Visitasi dilakukan ke lokasi lahan kampus PTS oleh Tim Evaluator didampingi oleh wakil dari L2 Dikti setempat, dan diterima oleh Ketua Pengurus Badan Penyelenggara (tidak dapat diwakilkan) serta para anggota Pengurus lainnya, dengan susunan acara sebagai berikut:

      • Pembukaan oleh Ketua Pengurus Badan Penyelenggara;
      • Penyocokan data dan informasi yang dicantumkan dalam dokumen dengan fakta di lapangan, antara lain calon dosen dan calon tenaga kependidikan, calon sarana dan prasarana, dan penerimaan lingkungan masyarakat setempat.
    1. Setelah visitasi, Tim Evaluator dapat memberikan rekomendasi tentang izin pendirian PTS kepada Direktur Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti.
    2. Setelah menerima dan mempertimbangkan rekomendasi tentang izin pendirian PTS dari Tim Evaluator, Direktur Jenderal mengajukan usul tertulis penerbitan izin pendirian PTS dilampiri keputusan BAN-PT atau LAM tentang akreditasi minimum proposal pendirian perguruan tinggi kepada Menteri.
    3. Menteri menetapkan izin pendirian PTS yang berbentuk universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, atau akademi, yang akan diberitahukan kepada pengusul secara online.
    4. Setelah penetapan Menteri sebagaimana dimaksud pada huruf h, PTS baru tersebut dapat menyelenggarakan pendidikan tinggi

     

Perubahan Perguruan Tinggi

  • chevron_right
    Apa yang dimaksud dengan perubahan bentuk Perguruan Tinggi Swasta?

    Perubahan bentuk PTS oleh badan penyelenggara berbadan hukum yang berprinsip nirlaba adalah penggantian bentuk PTS dari suatu bentuk PTS ke bentuk PTS lain, karena:

    1. bentuk PTS yang ditetapkan dalam izin pendirian tidak memenuhi lagi komposisi jumlah dan jenis program studi untuk bentuk PTS tersebut, sehingga PTS tersebut harus mengubah bentuknya sesuai dengan komposisi jumlah dan jenis program studi yang dapat diselenggarakannya;
    2. keputusan pencabutan status dan peringkat terakreditasi 1 (satu) atau lebih program studi oleh BAN-PT/LAM, yang mengakibatkan komposisi jumlah dan jenis program studi terakreditasi yang masih ada di PTS tersebut tidak memenuhi lagi komposisi jumlah dan jenis program studi terakreditasi yang disyaratkan untuk bentuk PTS sebagaimana dicantumkan dalam izin pendiriannya;
    3. penggabungan 2 (dua) atau lebih PTS menjadi 1 (satu) PTS bentuk baru;
    4. penggabungan dari 1 (satu) atau lebih PTS ke 1 (satu) PTS lain;
    5. perubahan kebijakan Pemerintah;
    6. keputusan badan penyelenggara PTS yang bersangkutan.

    Badan penyelenggara berbadan hukum yang berprinsip nirlaba sebagaimana dimaksud di atas adalah subyek hukum berbentuk yayasan, persyarikatan, perkumpulan, atau bentuk lain yang berprinsip nirlaba, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

     

  • chevron_right
    Apa saja dokumen persyaratan perubahan bentuk Perguruan Tinggi Swasta?

    Persyaratan perubahan bentuk Perguruan Tinggi Swasta adalah sama dengan pendirian Perguruan Tinggi swasta dengan dilengkapi dokumen sebagai berikut :
    a)    Surat usul perubahan bentuk dari PTS lama ke PTS baru yang akan dibentuk, yang disusun oleh Badan Penyelenggara dari PTS baru yang akan dibentuk;
    b)    Akta Notaris Pendirian Badan Penyelenggara dari PTS baru yang akan dibentuk, beserta semua perubahan yang telah dilakukan;
    c)    Dokumen Keputusan dari pihak yang berwenang tentang pengesahan Badan Penyelenggara sebagai badan hukum dari PTS baru yang akan dibentuk;
    d)    Sertifikat status lahan kampus PTS baru yang akan dibentuk atas nama Badan Penyelenggaradari PTS baru yang akan dibentuk, atau perjanjian sewa menyewa lahan;
    e)    Studi kelayakan perubahan PTS beserta Lampiran yang disusun oleh Badan Penyelenggara dari PTS baru yang akan dibentuk;
    f)    Instrumen akreditasi pendirian perguruan tinggi dari BAN-PT yang sudah diisi oleh Badan Penyelenggara;
    g)    Instrumen akreditasi pembukaan prodi baru dari BAN-PT pada PTS baru yang akan dibentuk yang sudah diisi oleh Badan Penyelenggara (satu Instrumen Pembukaan Prodi untuk setiap prodi);
    h)    Laporan Keuangan Badan Penyelenggara dari PTS baru yang akan dibentuk
    i)    Surat bukti kepemilikan dana Badan Penyelenggara dari PTS baru yang akan dibentuk;
    j)    Rekomendasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2 Dikti) di wilayah PTS baru yang akan dibentuk;
    k)    Akta Notaris tentang:
    o    kesepakatan antara 2 (dua) Badan Penyelenggara atau lebih, yang masing-masing mengelola PTS, untuk menggabungkan PTS di bawah pengelolaannya menjadi 1 (satu) PTS bentuk baru, baik yang dikelola oleh salah satu Badan Penyelenggara tersebut atau dikelola oleh Badan Penyelenggara yang baru dibentuk; atau
    o    kesepakatan antara 2 (dua) Badan Penyelenggara atau lebih, yang masing-masing mengelola PTS, untuk menggabungkan PTS di bawah pengelolaannya ke 1 (satu) PTS bentuk baru yang dikelola oleh salah satu Badan Penyelenggara tersebut;
    l)    Semua Surat Keputusan Izin Pendirian PTS lama dan Surat Keputusan Izin Pembukaan Prodi pada PTS lama.
    m)    Surat pernyataan telah berkoordinasi dengan organisasi profesi dari organisasi profesi terkait (bila disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan).
    Format dokumen untuk PTS baru yang akan dibentuk sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai dengan huruf j dapat dilihat dalam Lampiran Buku Pedoman.

  • chevron_right
    Bagaimana prosedur perubahan bentuk Perguruan Tinggi Swasta?
    1. Badan penyelenggara dari PTS baru yang akan dibentuk meminta rekomendasi L2 Dikti di wilayah PTS baru yang akan dibentuk. Dalam hal L2 Dikti belum terbentuk di wilayah di mana PTS baru yang akan dibentuk, maka tugas dan fungsinya masih dijalankan oleh Kopertis wilayah tersebut.

    L2 Dikti atau Kopertis setempat memberi rekomendasi tentang:

      • rekam jejak Badan Penyelenggara dari PTS baru yang akan dibentuk;
      • tingkat kejenuhan berbagai prodi yang akan diselenggarakan dalam PTS baru yang akan dibentuk di wilayah L2 Dikti;
      • tingkat keberlanjutan PTS baru yang akan dibentuk, jika diberi izin perubahan bentuk PTS oleh Pemerintah.
    1. Badan Penyelenggara dari PTS baru yang akan dibentuk menyiapkan dan menyusun dokumen sesuai persyaratan.

    Badan Penyelenggara dari PTS baru yang akan dibentuk bertanggungjawab atas kebenaran data dan informasi yang dimuat dalam semua Dokumen di atas. Apabila Badan Penyelenggara dari PTS baru yang akan dibentuk memberikan data dan informasi yang tidak benar, Badan Penyelenggara tersebut dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan Pasal 242 ayat (1) juncto ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

    1. Direktur Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti menugaskan Tim Evaluator untuk melakukan evaluasi dan verifikasi dokumen secara digital.
    2. Tim Evaluator dapat memberikan rekomendasi untuk presentasi usul perubahan bentuk PTS oleh pengusul pada waktu yang diberitahukan secara online oleh Direktorat Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti.

    Presentasi usul perubahan bentuk PTS dilakukan oleh Ketua Pengurus Badan Penyelenggara (tidak dapat diwakilkan) dari PTS baru yang akan dibentuk, didampingi oleh para anggota Pengurus lainnya di hadapan Tim Evaluator, dengan susunan acara sebagai berikut:

      • Pembukaan oleh Tim Evaluator;
      • Presentasi ringkasan Studi Kelayakan perubahan bentuk PTS oleh Ketua Pengurus Badan Penyelenggara disajikan dalam bentuk slide presentasi;
      • Diskusi dan tanya jawab dengan Tim Evaluator.
    1. Setelah presentasi, Tim Evaluator dapat memberikan rekomendasi untuk dilakukan visitasi. Pemberitahuan jadwal visitasi kepada Pengusul dilakukan secara online.

    Visitasi dilakukan ke lokasi lahan kampus PTS baru yang akan dibentuk oleh Tim Evaluator didampingi oleh wakil dari L2 Dikti setempat, dan diterima oleh Ketua Pengurus Badan Penyelenggara (tidak dapat diwakilkan) dari PTS baru yang akan dibentuk, serta para anggota Pengurus lainnya, dengan susunan acara sebagai berikut:

      • Pembukaan oleh Ketua Pengurus Badan Penyelenggara dari PTS baru yang akan dibentuk;
      • Penyocokan data dan informasi yang dicantumkan dalam dokumen dengan fakta lapangan, antara lain calon dosen dan calon tenaga kependidikan, calon sarana dan prasarana, penerimaan lingkungan masyarakat setempat. dan
    1. Setelah visitasi, Tim Evaluator dapat memberikan rekomendasi tentang izin perubahan bentuk PTS kepada Direktur Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti.
    2. Setelah menerima dan mempertimbangkan rekomendasi tentang izin perubahan bentuk PTS dari Tim Evaluator, Direktur Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti mengajukan usul tertulis perubahan bentuk PTS dilampiri keputusan BAN-PT atau LAM, kepada Menteri.
    3. Menteri menetapkan izin perubahan bentuk PTS yang berbentuk universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, atau akademi, yang akan diberitahukan kepada pengusul secara online.
    4. Setelah penetapan izin perubahan bentuk PTS oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada huruf h, PTS baru tersebut dapat menyelenggarakan pendidikan tinggi.

     

Penambahan Program Studi

  • chevron_right
    Apa yang dimaksud dengan pembukaan Program Studi di PTS ?

    Pembukaan penyelenggaraan program studi untuk pendirian PTS atau perubahan bentuk PTS

  • chevron_right
    Apa yang dimaksud dengan penambahan Program Studi di PTS ?

    Pembukaan penyelenggaraaan prodi sebagai penambahan prodi pada PTS yang telah memiliki izin PTS

  • chevron_right
    Apa saja syarat membuka Program Studi di PTS ?
    1. Program Diploma yang akan dibuka di dalam Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi yang akan didirikan atau hasil perubahan bentuk:
      1. paling banyak 10 (sepuluh) persen dari jumlah Program Sarjana; dan
      2. tidak menyelenggarakan prodi sebidang dengan prodi pada Program Diploma di Politeknik dan/atau Akademi yang berdomisili di dalam kota atau kabupaten yang sama dengan Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi yang akan didirikan atau diubah bentuknya;
    2. Kurikulum Program Studi disusun berdasarkan kompetensi lulusan sesuai standar nasional pendidikan tinggi;
    3. Dosen paling sedikit berjumlah 5 (lima) orang untuk setiap Program Studi pada Program Diploma dan Program Sarjana, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan, dengan kualifikasi:
      1. paling rendah berijazah Magister atau Spesialis I dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebidang dengan program studi yang akan dibuka;
      2. berusia paling tinggi 58 (lima puluh delapan) tahun pada saat diterima sebagai dosen pada PTS yang akan membuka Program Studi;
      3. bersedia bekerja penuh waktu sebagai dosen tetap selama 40 (empat puluh) jam per minggu;
      4. belum memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/Nomor Induk Dosen Khusus, atau telah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/Nomor Induk Dosen Khusus pada Program Studi lain di PTS yang akan membuka Program Studi, sejauh nisbah dosen dan mahasiswa pada Program Studi yang ditinggalkan tetap 1 (satu) : 30 (tiga puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan sosial, dan 1 (satu) : 20 (dua puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan alam;
      5. bukan guru yang telah memiliki Nomor Urut Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan/atau bukan pegawai tetap pada satuan administrasi pangkal instansi lain; dan
      6. bukan Pegawai Negeri Sipil/Aparatur Sipil Negara bagi Dosen Program Studi yang akan dibuka di PTS;
    4. Program Studi dikelola oleh Unit Pengelola Program Studi dengan organisasi dan tata kerja yang disusun dan ditetapkan oleh Badan Penyelenggara.

    Dokumen yang memuat persyaratan pembukaan prodi untuk pendirian atau perubahan bentuk PTS dibuat dengan format pdf, yang harus diunggah ke laman: silemkerma. ristekdikti.go.id. Dokumen yang dimaksud adalah Usul Pembukaan Program Studi yang berisi Instrumen Pembukaan Prodi pada PTS (satu Instrumen Pembukaan Prodi untuk setiap prodi) yang diisi oleh Badan Penyelenggara.

    Usul Pembukaan Program Studi untuk pendirian/perubahan bentuk PTS baru diunggah bersama dengan dokumen lain dalam pendirian/perubahan bentuk PTS.

     

  • chevron_right
    Apa saja dokumen persyaratan menambahkan Program Studi di PTS ?
    1. Surat usul penambahan prodi dari Pemimpin PTS;
    2. Surat persetujuan penambahan prodi dari Badan Penyelenggara PTS;
    3. Surat pertimbangan penambahan prodi dari Senat Perguruan Tinggi Swasta;
    4. Akta Notaris Pendirian Badan Penyelenggara dari PTS yang akan membuka prodi beserta semua perubahan yang telah dilakukan;
    5. Dokumen Keputusan dari pihak yang berwenang tentang pengesahan Badan Penyelenggara PTS yang mengusulkan pembukaan prodi sebagai badan hukum;
    6. Surat Keputusan Menteri Tentang Izin Pendirian PTS atau Perubahan bentuk PTS yang akan menambah prodi;
    7. Memenuhi syarat minimum akreditasi prodi sesuai standar nasional pendidikan tinggi;
    8. Rencana penambahan prodi telah dicantumkan dalam Rencana Strategis PTSyang bersangkutan;
    9. Usul Pembukaan Program Studi yang berisi Instrumen akreditasi prodi dari BAN-PT/LAM (satu instrumen akreditasi untuk setiap prodi yang akan ditambahkan) yang sudah diisi oleh Pemimpin PTS;
    10. Penambahan program studi pada Program Diploma di dalam Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi, tidak boleh:
      1. menyebabkan jumlah Program Diploma melebihi 10 (sepuluh) persen dari jumlah Program Sarjana; dan
      2. tidak menyelenggarakan prodi sebidang dengan prodi pada Program Diploma di Politeknik dan/atau Akademi yang berdomisili di dalam kota atau kabupaten yang sama dengan Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi yang akan menambah program studi;
    11. Prodi pada Program Magister atau Program Magister Terapan dapat diselenggarakan setelah prodi sebidang pada Program Sarjana atau Program Diploma Empat atau Sarjana Terapan telah terakreditasi dengan peringkat terakreditasi paling sedikit B atau Baik Sekali, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan;
    12. Prodi pada Program Doktor atau Program Doktor Terapan dapat diselenggarakan setelah prodi sebidang pada Program Magister atau Program Magister Terapan telah terakreditasi dengan peringkat terakreditasi paling sedikit B atau Baik Sekali, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan;
    13. Dalam hal Program Magister atau Program Magister Terapan merupakan Program Magister atau Program Magister Terapan multidisiplin, maka paling sedikit 2 (dua) prodi yang relevan pada Program Sarjana atau Program Diploma Empat atau Sarjana Terapan telah terakreditasi dengan peringkat terakreditasi paling sedikit B atau Baik Sekali, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan;
    14. Dalam hal Program Doktor atau Program Doktor Terapan merupakan Program Doktor atau Program Doktor Terapan multidisiplin, maka paling sedikit 2 (dua) prodi yang relevan pada Program Magister atau Program Magister Terapan telah terakreditasi dengan peringkat terakreditasi paling sedikit B atau Baik Sekali, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan;
    15. Program Profesi dapat diselenggarakan setelah prodi sebidang pada Program Sarjana atau Program Diploma Empat atau Sarjana Terapan telah terakreditasi dengan peringkat terakreditasi paling sedikit B atau Baik Sekali, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan;
    16. Kurikulum prodi disusun berdasarkan kompetensi lulusan sesuai standar nasional pendidikan tinggi;
    17. Dosen paling sedikit berjumlah 6 (enam) orang untuk setiap prodi, kecuali ditetapkan lain oleh peraturan perundang-undangan:
      1. Pada Program Diploma dan Program Sarjana dengan kualifikasi:
        1. paling rendah berijazah Magister dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebidang dengan program studi yang akan dibuka;
        2. berusia paling tinggi 58 (lima puluh delapan) tahun pada saat diterima sebagai dosen pada PTS yang akan menambah program studi;
        3. bersedia bekerja penuh waktu sebagai dosen tetap selama 40 (empat puluh) jam per minggu;
        4. belum memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/Nomor Induk Dosen Khusus, atau telah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/ Nomor Induk Dosen Khusus pada Program Studi lain di PTS yang akan menambah program studi, sejauh nisbah dosen dan mahasiswa pada program studi yang ditinggalkan tetap 1 (satu) : 30 (tiga puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan sosial, dan 1 (satu) : 20 (dua puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan alam;
        5. bukan guru yang telah memiliki Nomor Urut Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan/atau bukan pegawai tetap pada satuan administrasi pangkal instansi lain; dan
        6. bukan Pegawai Negeri Sipil/Aparatur Sipil Negara bagi dosen program studi yang akan dibuka di PTS;
      2. Pada Program Magister dan Magister Terapan, dengan kualifikasi:
        1. paling rendah berijazah Doktor dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebidang dengan program studi yang akan dibuka;
        2. berusia paling tinggi 58 (lima puluh delapan) tahun pada saat diterima sebagai dosen pada PTS yang akan menambah Program Studi;
        3. bersedia bekerja penuh waktu sebagai dosen tetap selama 40 (empat puluh) jam per minggu;
        4. belum memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/Nomor Induk Dosen Khusus, atau telah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/ Nomor Induk Dosen Khusus pada Program Studi lain di PTS yang akan menambah Program Studi, sejauh nisbah dosen dan mahasiswa pada Program Studi Program Sarjana atau Program Sarjana Terapan yang ditinggalkan, tetap 1 (satu) : 30 (tiga puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan sosial, dan 1 (satu) : 20 (dua puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan alam;
        5. bukan guru yang telah memiliki Nomor Urut Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan/atau bukan pegawai tetap pada satuan administrasi pangkal instansi lain; dan
        6. bukan Pegawai Negeri Sipil/Aparatur Sipil Negara bagi Dosen Program Studi yang akan dibuka di PTS.
      3. Pada Program Doktor dan Doktor Terapan, dengan kualifikasi:
        1. paling rendah berijazah Doktor atau Doktor Terapan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebidang dengan program studi yang akan dibuka;
        2. paling sedikit 2 (dua) dosen memiliki jabatan fungsional Guru Besar dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebidang dengan program studi yang akan dibuka;
        3. berusia paling tinggi 58 (lima puluh delapan) tahun pada saat diterima sebagai dosen pada PTS yang akan menambah Program Studi, kecuali yang berjabatan fungsional Guru Besar;
        4. bersedia bekerja penuh waktu sebagai dosen tetap selama 40 (empat puluh) jam per minggu;
        5. belum memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/Nomor Induk Dosen Khusus, atau telah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/ Nomor Induk Dosen Khusus pada Program Studi lain di PTS yang akan menambah Program Studi, sejauh nisbah dosen dan mahasiswa pada Program Studi Program Sarjana atau Program Sarjana Terapan yang ditinggalkan, tetap 1 (satu) : 30 (tiga puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan sosial, dan 1 (satu) : 20 (dua puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan alam;
        6. bukan guru yang telah memiliki Nomor Urut Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan/atau bukan pegawai tetap pada satuan administrasi pangkal instansi lain; dan
        7. bukan Pegawai Negeri Sipil/Aparatur Sipil Negara bagi Dosen Program Studi yang akan dibuka di PTS.
      4. Pada Program Profesi dengan kualifikasi:
        1. paling rendah berijazah dan bersertifikat profesi atau berijazah Magister atau Spesialis I dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebidang dengan Program Studi yang akan dibuka;
        2. memiliki pengalaman praktek profesi paling sedikit 2 (dua) tahun yang dibuktikan dengan surat izin praktek profesi atau spesialis;
        3. berusia paling tinggi 58 (lima puluh delapan) tahun pada saat diterima sebagai dosen pada PTS yang akan menambah Program Studi;
        4. bersedia bekerja penuh waktu sebagai dosen tetap selama 40 (empat puluh) jam per minggu;
        5. belum memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/Nomor Induk Dosen Khusus, atau telah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/ Nomor Induk Dosen Khusus pada Program Studi lain di PTS yang akan menambah Program Studi, sejauh nisbah dosen dan mahasiswa pada Program Studi Program Sarjana atau Program Sarjana Terapan yang ditinggalkan, tetap 1 (satu) : 30 (tiga puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan sosial, dan 1 (satu) : 20 (dua puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan alam; dan
        6. bukan guru yang telah memiliki Nomor Urut Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan/atau bukan pegawai tetap pada satuan administrasi pangkal instansi lain;
        7. bukan Pegawai Negeri Sipil/Aparatur Sipil Negara bagi Dosen Program Studi yang akan dibuka di PTS.
      5. Pada Program Spesialis dengan kualifikasi:
        1. paling rendah berijazah dan bersertifikat spesialis atau berijazah Doktor dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebidang dengan Program Studi yang akan dibuka;
        2. memiliki pengalaman praktek spesialis paling sedikit 2 (dua) tahun yang dibuktikan dengan surat izin praktek profesi atau spesialis;
        3. berusia paling tinggi 58 (lima puluh delapan) tahun pada saat diterima sebagai dosen pada PTS yang akan menambah Program Studi;
        4. bersedia bekerja penuh waktu sebagai dosen tetap selama 40 (empat puluh) jam per minggu;
        5. belum memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/Nomor Induk Dosen Khusus, atau telah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/ Nomor Induk Dosen Khusus pada Program Studi lain di PTS yang akan menambah Program Studi, sejauh nisbah dosen dan mahasiswa pada Program Studi Program Sarjana atau Program Sarjana Terapan yang ditinggalkan, tetap 1 (satu) : 30 (tiga puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan sosial, dan 1 (satu) : 20 (dua puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan alam;
        6. bukan guru yang telah memiliki Nomor Urut Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan/atau bukan pegawai tetap pada satuan administrasi pangkal instansi lain; dan
        7. bukan Pegawai Negeri Sipil/Aparatur Sipil Negara bagi Dosen Program Studi yang akan dibuka di PTS.
      6. Rekomendasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2 Dikti) di wilayah PTS yang akan menambah prodi; dan
      7. Surat pernyataan telah berkoordinasi dengan organisasi profesi dari organisasi profesi terkait (bila disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan).

     

  • chevron_right
    Bagaimana prosedur pembukaan Program Studi pada Perguruan Tinggi Swasta?

    Prosedur pembukaan prodi untuk pendirian PTS atau perubahan bentuk PTS terintegrasi dalam prosedur pendirian PTS atau perubahan bentuk PTS.

  • chevron_right
    Bagaimana prosedur pembukaan atau penambahan Program Studi pada Perguruan Tinggi Swasta ?
    1. Pemimpin PTS meminta Rekomendasi dari L2 Dikti di wilayah PTS yang akan menambah prodi. Dalam hal L2 Dikti belum terbentuk di wilayah PTS yang akan membuka prodi, maka tugas dan fungsinya masih dijalankan oleh Kopertis wilayah tersebut. 
      L2 Dikti atau Kopertis setempat memberi rekomendasi tentang:
      • rekam jejak Badan Penyelenggara dan PTS yang akan menambah prodi;
      • tingkat kejenuhan prodi yang akan dibuka oleh PTS tersebut di wilayah L2 Dikti;
      • tingkat keberlanjutan prodi yang akan ditambahkan jika diizinkan oleh Pemerintah;
      • bebas konflik internal PTS di tingkat Badan Penyelenggara dan/atau tingkat PTS.

     

    1. Pemimpin PTS membuat dokumen sesuai persyaratan.

    Perhatian:

    Pemimpin PTS bertanggungjawab atas kebenaran data dan informasi yang dimuat dalam semua Dokumen di atas. Apabila Pemimpin PTS memberikan data dan informasi yang tidak benar, Pemimpin PTS dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan Pasal 242 ayat (1) juncto ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. 
     

    1. Direktorat Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti menugaskan Tim Evaluator untuk melakukan evaluasi dan verifikasi dokumen secara digital.
    2. Berdasarkan hasil evaluasi dan verifikasi Direktur Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti dapat menugaskan Tim Evaluator untuk melakukan visitasi ke PTS yang mengusulkan pembukaan prodi, atau langsung menetapkan izin pembukaan prodi tersebut.
    3. Apabila dilakukan visitasi, proses penetapan izin sebagai berikut:
      1. Visitasi dilakukan ke PTS yang akan membuka prodi oleh Tim Evaluator didampingi oleh wakil dari L2 Dikti setempat, dan diterima oleh Pemimpin PTS (tidak dapat diwakilkan), serta para Wakil Pemimpin PTS, dengan susunan acara sebagai berikut:
        • Pembukaan oleh Pemimpin PTS;
        • Penyocokan data dan informasi yang dicantumkan dalam Rancangan Prodi dengan fakta lapangan, antara lain calon dosen dan calon tenaga kependidikan, calon prasarana dan calon sarana.
      2. Setelah visitasi, Tim Evaluator dapat memberikan rekomendasi tentang izin pembukaan prodi kepada Direktur Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti.
    4. Setelah menerima dan mempertimbangkan rekomendasi tentang izin pembukaan prodi (baik visit atau tanpa visit) dari Tim Evaluator, Direktur Jenderal mengajukan usul tertulis penerbitan izin pembukaan prodi dilampiri surat keputusan akreditasi minimum dari BAN-PT atau LAM, kepada Menteri.
    5. Menteri menetapkan izin prodi pada PTS bersangkutan, yang akan diberitahukan kepada pengusul secara online.
    6. Setelah penetapan izin prodi pada PTS oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada huruf g, PTS dapat menyelenggarakan prodi.

     

  • chevron_right
    Bagaimana aturan pembukaan Program Studi, Program Diploma, Sarjana, Magister di Perguruan Tinggi Negeri?

    Sejak tanggal 10 Agustus 2012 Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi telah menetapkan pola baru dalam perizinan pembukaan Program Studi. Sebelum UU Dikti ditetapkan, izin pembukaan Program Studi diterbitkan terlebih dahulu oleh Mendikbud yang sekarang Menristekdikti setelah memenuhi persyaratan berdasarkan peraturan perundang- undangan, kemudian dalam  kurun  waktu  tertentu  sebagaimana  ditetapkan  dalam   surat keputusan izin tersebut, PTN wajib meminta akreditasi kepada Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Setelah UU Dikti berlaku, izin pembukaan Program Studi akan diterbitkan apabila proposal pembukaan Program Studi telah memenuhi syarat minimum akreditasi Program Studi, sebagaimana ditetapkan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) dari Program Studi yang bersangkutan, atau BAN-PT dalam hal belum dibentuk LAM dari Program Studi tersebut.

    Pengaturan pembukaan Program Studi pada PTN dapat ditemukan dalam Pasal 33 ayat (3) dan ayat (5) UU Dikti yang menetapkan sebagai berikut:

    • Ayat (3): Program Studi diselenggarakan atas izin Menteri setelah memenuhi persyaratan minimum akreditasi.
    • Ayat (5): Program Studi mendapatkan akreditasi pada saat memperoleh izin penyelenggaraan.

     

  • chevron_right
    Apa yang mendasari penerbitan izin pembukaan Program Studi di Perguruan Tinggi Negeri ?

    Penerbitan izin pembukaan Program Studi pada PTN didasarkan pada SN-Dikti sebagaimana diatur dalam Pasal 54 ayat (1) huruf a dan ayat (2) UU Dikti yang menyatakan sebagai berikut:

    • Ayat (1) huruf a:  SN Dikti  ditetapkan oleh Menteri atas usul  suatu  badan  yang  bertugas menyusun dan mengembangkan SN Dikti;
    • Ayat (2): SN Dikti merupakan satuan standar yang meliputi standar nasional pendidikan, ditambah dengan standar penelitian, dan standar pengabdian kepada masyarakat.

    SN Dikti merupakan standar minimum akreditasi untuk pembukaan program studi pada PTN. Dengan demikian, izin pembukaan Program Studi pada PTN harus memenuhi syarat minimum akreditasi yang berarti pula harus memenuhi SN Dikti.

     

  • chevron_right
    Bagaimana cara mengusulkan pembukaan Program Studi di PTN ?

    Pembukaan Program Studi diusulkan oleh pemimpin PTN yang bersangkutan kepada Menristekdikti dengan mengajukan proposal pembukaan Program Studi yang memuat pemenuhan semua persyaratan sebagaimana yang diuraikan di dalam buku ini. Proposal tersebut dikirimkan secara daring ke laman silemkerma.dikti.go.id. Kelengkapan persyaratan tersebut akan menentukan pemenuhan syarat minimum akreditasi dari Program Studi yang akan dibuka. Evaluasi kecukupan tentang pemenuhan persyaratan minimum akreditasi Program Studi tersebut akan dilakukan oleh BAN-PT atau LAM. Apabila persyaratan minimum akreditasi untuk pembukaan Program Studi telah dipenuhi, maka Menristekdikti akan menerbitkan izin pembukaan Program Studi tersebut.

  • chevron_right
    Apa saja persyaratan membuka Program Studi di PTN?
    1. Memenuhi syarat minimum akreditasi Program Studi sesuai SN-Dikti;
    2. Rencana penambahan Program Studi telah dicantumkan dalam Rencana Strategis PTNyang bersangkutan;
    3. Rencana penambahan Program Studi telah disetujui oleh Senat Perguruan Tinggi pengusul;
    4. Penambahan program studi pada Program Diploma di dalam Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi, tidak boleh :
      1. menyebabkan jumlah Program Diploma melebihi 10 (sepuluh) persen dari jumlah Program Sarjana; dan
      2. tidak menyelenggarakan Program Studi sebidang dengan Program Studi pada Program Diploma di Politeknik dan/atau Akademi yang berdomisili di dalam kota atau kabupaten yang sama dengan Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi yang akan menambah program studi;
    5. Program Studi pada Program Magister atau Program Magister Terapan dapat diselenggarakan setelah Program Studi sebidang pada Program Sarjana atau Program Diploma Empat atau Sarjana Terapan telah terakreditasi dengan peringkat terakreditasi paling sedikit B atau Baik Sekali, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan;
    6. Program Studi pada Program Doktor atau Program Doktor Terapan dapat diselenggarakan setelah Program Studi sebidang pada Program Magister atau Program Magister Terapan telah terakreditasi dengan peringkat terakreditasi paling sedikit B atau Baik Sekali, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan;
    7. Dalam hal Program Magister atau Program Magister Terapan merupakan Program Magister atau Program Magister Terapan multidisiplin, maka paling sedikit 2 (dua) Program Studi yang relevan pada Program Sarjana atau Program Diploma Empat atau Sarjana Terapan telah terakreditasi dengan peringkat terakreditasi paling sedikit B atau Baik Sekali, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan;
    8. Dalam hal Program Doktor atau Program Doktor Terapan merupakan Program Doktor atau Program Doktor Terapan multidisiplin, maka paling sedikit 2 (dua) Program Studi yang relevan pada Program Magister atau Program Magister Terapan telah terakreditasi dengan peringkat terakreditasi paling sedikit B atau Baik Sekali, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan;
    9. Program Profesi dapat diselenggarakan setelah Program Studi sebidang pada Program Sarjana atau Program Diploma Empat atau Sarjana Terapan telah terakreditasi dengan peringkat terakreditasi paling sedikit B atau Baik Sekali, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan;
    10. Kurikulum Program Studi disusun berdasarkan kompetensi lulusan sesuai SN-Dikti;
    11. Dosen paling sedikit berjumlah 6 (enam) orang untuk setiap Program Studi, kecuali ditetapkan lain oleh peraturan perundang-undangan:
      1. Pada Program Diploma dan Program Sarjana dengan kualifikasi:
        1. paling rendah berijazah Magister dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebidang dengan program studi yang akan dibuka;
        2. berusia paling tinggi 58 (lima puluh delapan) tahun pada saat diterima sebagai dosen pada PTN yang akan menambah program studi;
        3. bersedia bekerja penuh waktu sebagai dosen tetap selama 40 (empat puluh) jam per minggu;
        4. belum memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/Nomor Induk Dosen Khusus, atau telah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/ Nomor Induk Dosen Khusus pada Program Studi lain di PTN yang akan menambah program studi melalui mekanisme pindah home base. Perpindahan home base dapat diijinkan sejauh nisbah dosen dan mahasiswa pada program studi yang ditinggalkan tetap 1 (satu) : 30 (tiga puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan sosial, dan 1 (satu) : 20 (dua puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan alam;
        5. bukan guru yang telah memiliki Nomor Urut Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan/atau bukan pegawai tetap pada satuan administrasi pangkal instansi lain; dan
        6. bukan Pegawai Negeri Sipil/Aparatur Sipil Negara bagi dosen program studi yang akan dibuka di PTN;
      2. Pada Program Magister dan Magister Terapan, dengan kualifikasi:
        1. paling rendah berijazah Doktor dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebidang dengan program studi yang akan dibuka;
        2. berusia paling tinggi 58 (lima puluh delapan) tahun pada saat diterima sebagai dosen pada PTN yang akan menambah Program Studi;
        3. bersedia bekerja penuh waktu sebagai dosen tetap selama 40 (empat puluh) jam per minggu;
        4. belum memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/Nomor Induk Dosen Khusus, atau telah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional/ Nomor Induk Dosen Khusus pada Program Studi lain di PTN yang akan menambah program studi melalui mekanisme pindah home base. Perpindahan home base dapat diijinkan sejauh nisbah dosen dan mahasiswa pada program studi yang ditinggalkan tetap 1 (satu) : 30 (tiga puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan sosial, dan 1 (satu) : 20 (dua puluh) untuk kelompok bidang ilmu pengetahuan alam;
        5. bukan guru yang telah memiliki Nomor Urut Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan/atau bukan pegawai tetap pada satuan administrasi pangkal instansi lain; dan
        6. bukan Pegawai Negeri Sipil bagi Dosen Program Studi yang akan dibuka di PTN.

     

  • chevron_right
    Apa saja dokumen untuk pembukaan Program Studi di PTN ?

    Dokumen yang memuat persyaratan pembukaan Program Studi dibuat dengan format pdf hasil copy scan atau hasil alihrupa berkas pengolah kata ke berkas pdf. Dokumen pdf harus dapat dibaca dengan jelas pada kondisi normal tanpa perbesaran. Dokumen yang kabur atau tidak terbaca dapat menyebabkan tidak dievaluasinya dokumen tersebut. Dokumen yang harus diunggah ke laman: silemkerma.dikti.go.id terdiri atas: 

    1. Surat usul penambahan Program Studi dari Pemimpin PTN;
    2. Surat Pertimbangan Senat mengenai penambahan Program Studi dari Perguruan Tinggi Pengusul;
    3. Rencana Strategis Perguruan Tinggi yang mencantumkan rencana penambahan Prohgram Studi;
    4. Proposal Pembukaan Program Studi yang berisi Instrumen akreditasi Program Studi dari BAN-PT/LAM dan lampiran-lampirannya termasuk diantaranya Surat pertimbangan penambahan Program Studi dari Senat Perguruan Tinggi Negeri dan Rencana Strategis Perguruan Tinggi (satu instrumen akreditasi untuk setiap Program Studi yang akan ditambahkan) yang sudah diisi olehPemimpin PTN;
    5. Rekomendasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2 Dikti) di wilayah PTN yang akan menambah Program Studi apabila L2 Dikti telah ada.
    6. Rekomendasi organisasi profesi dari organisasi profesi terkait (bila disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan).

     

  • chevron_right
    Bagaimana prosedur pembukaan Program Studi di PTN ?
    1. Pemimpin PTN meminta Rekomendasi dari L2 Dikti di wilayah PTN yang akan menambah Program Studi apabila L2 Dikti telah ada.

    L2 Dikti setempat memberi rekomendasi tentang:

      • rekam jejak kinerja PTN yang akan menambah Program Studi;
      • tingkat kejenuhan Program Studi yang akan dibuka oleh PTN tersebut di wilayah L2 Dikti;
      • tingkat keberlanjutan Program Studi yang akan ditambahkan jika diizinkan oleh Pemerintah;

     

    1. Pemimpin PTN membuat dokumen sesuai persyaratan

    Perhatian:

    Pemimpin PTN bertanggungjawab atas kebenaran data dan informasi yang dimuat dalam semua Dokumen di atas. Apabila Pemimpin PTN memberikan data dan informasi yang tidak benar, Pemimpin PTN dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan Pasal 242 ayat (1) juncto ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

    1. Direktorat Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti dapat menugaskan Tim Evaluator untuk melakukan evaluasi dan verifikasi dokumen secara daring.
    2. Berdasarkan hasil evaluasi dan verifikasi sebagaimana dimaksud pada huruf c, Direktur Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti dapat menugaskan Tim Evaluator untuk melakukan visitasi ke PTN yang mengusulkan pembukaan Program Studi dalam rangka memvalidasi data dan informasi yang dicantumkan dalam Rancangan Program Studi dengan fakta lapangan.
    3. Berdasarkan hasil butir c atau butir c dan d, maka Tim Evaluator dapat memberikan rekomendasi tentang izin pembukaan Program Studi kepada Direktur Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti.
    4. Direktur Jenderal dengan mempertimbangkan rekomendasi Tim Evaluator, mengajukan usul tertulis penerbitan izin pembukaan Program Studi kepada Menteri, dilampiri dengan surat keputusan akreditasi minimum dari BAN-PT atau LAM.
    5. Menteri menetapkan izin Program Studi pada PTN bersangkutan yang akan diberitahukan kepada pengusul secara daring.
    6. Setelah penetapan izin Program Studi pada PTN oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada huruf g, PTN dapat menyelenggarakan Program Studi.

     

Alih Kelola PTS

  • chevron_right
    Apa yang dimaksud dengan Alih Kelola Perguruan Tinggi?

    Alih Kelola PTS adalah pengalihan pengelolaan antar badan penyelenggara atau di dalam organ-organ badan penyelenggara atas suatu PTS

  • chevron_right
    Apa persyaratan alih kelola PTS ?
    1. Pemimpin PTN meminta Rekomendasi dari L2 Dikti di wilayah PTN yang akan menambah Program Studi apabila L2 Dikti telah ada.

    L2 Dikti setempat memberi rekomendasi tentang:

      • rekam jejak kinerja PTN yang akan menambah Program Studi;
      • tingkat kejenuhan Program Studi yang akan dibuka oleh PTN tersebut di wilayah L2 Dikti;
      • tingkat keberlanjutan Program Studi yang akan ditambahkan jika diizinkan oleh Pemerintah;

     

    1. Pemimpin PTN membuat dokumen sesuai persyaratan

    Perhatian:

    Pemimpin PTN bertanggungjawab atas kebenaran data dan informasi yang dimuat dalam semua Dokumen di atas. Apabila Pemimpin PTN memberikan data dan informasi yang tidak benar, Pemimpin PTN dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan Pasal 242 ayat (1) juncto ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

    1. Direktorat Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti dapat menugaskan Tim Evaluator untuk melakukan evaluasi dan verifikasi dokumen secara daring.
    2. Berdasarkan hasil evaluasi dan verifikasi sebagaimana dimaksud pada huruf c, Direktur Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti dapat menugaskan Tim Evaluator untuk melakukan visitasi ke PTN yang mengusulkan pembukaan Program Studi dalam rangka memvalidasi data dan informasi yang dicantumkan dalam Rancangan Program Studi dengan fakta lapangan.
    3. Berdasarkan hasil butir c atau butir c dan d, maka Tim Evaluator dapat memberikan rekomendasi tentang izin pembukaan Program Studi kepada Direktur Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti.
    4. Direktur Jenderal dengan mempertimbangkan rekomendasi Tim Evaluator, mengajukan usul tertulis penerbitan izin pembukaan Program Studi kepada Menteri, dilampiri dengan surat keputusan akreditasi minimum dari BAN-PT atau LAM.
    5. Menteri menetapkan izin Program Studi pada PTN bersangkutan yang akan diberitahukan kepada pengusul secara daring.
    6. Setelah penetapan izin Program Studi pada PTN oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada huruf g, PTN dapat menyelenggarakan Program Studi.

     

  • chevron_right
    Bagaimana cara mengusulkan Alih Kelola Perguruan Tinggi?

    Usul alih kelola diusulkan oleh Badan Penyelenggara yang akan menerima alih kelola kepada Direktur Jenderal Kelembagaan, Iptek, dan Pendidikan Tinggi melalui laman silemkerma.dikti.go.id disertai dengan alasan alih kelola perguruan tinggi.

  • chevron_right
    Dokumen apa saja yang disampaikan memalui laman silemkerma ?

    Dokumen disampaikan dalam bentuk pdf, yaitu :

    1. Surat permohonan  alih kelola  PTS  yang disusun  oleh  badan penyelenggara yang akan menerima alih kelola PTS dialamatkan kepada Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti; 
    2. Akta Notaris Pendirian badan penyelenggara yang akan mengalihkelolakan PTS, beserta semua perubahan yang telah dilakukan;
    3. Akta Notaris Pendirian badan penyelenggara yang akan menerima alih kelola PTS, beserta semua perubahan yang telah dilakukan;
    4. Surat Keputusan dari pihak yang berwenang tentang pengesahan  badan penyelenggara yang akan mengalihkelolakan PTS sebagai badan hukum;
    5. Surat Keputusan dari pihak yang berwenang tentang pengesahan badan penyelenggara yang akan menerima alih kelola PTS sebagai badan hukum;
    6. Semua Surat Keputusan Izin Pendirian PTS dan Surat Keputusan Izin Pembukaan Prodi pada PTS yang akan dialihkelolakan;
    7. Akta Notaris tentang:
      • kesepakatan alih kelola PTS antara badan penyelenggara yang akan mengalihkelolakan PTS dengan badan penyelenggara yang menerima alih kelola PTS; atau
      • kesepakatan alih kelola PTS antar seluruh anggota organ-organ badan penyelenggara yang  akan mengalihkelolakan PTS  dengan seluruh anggota organ-organ  badan penyelenggara yang akan menerima alih kelola PTS;
    8. Sertifikat status lahan kampus PTS yang akan dialihkelolakan atas nama Badan Penyelenggara yang menerima alih kelola, atau perjanjian sewa menyewa lahan  seperti dikemukakan dalam angka 2.1. huruf f;
    9. Laporan Keuangan badan penyelenggara PTS yang akan menerima alih kelola;
    10. Surat bukti kepemilikan dana badan penyelenggara PTS yang akan menerima alih kelola;
    11. Rekomendasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2 Dikti)  di wilayah PTS yang akan dialihkelolakan.

     

  • chevron_right
    Bagaimana prosedur alih kelola perguruan tinggi ?

    Prosedur alih kelola perguruan tinggi akan melalui tahapan :

    1. Penerimaan dokumen alih kelola PTS melalui sistem On-line;
    2. Evaluasi dan verifikasi dokumen alih kelola secara digital;
    3. Pengumuman hasil evaluasi dan verifikasi dokumen – untukpermohonan alih kelola yang belum memenuhi persyaratan, akan disampaikan melalui akun silemkerma masing-masing pengusul;
    4. Presentasi pemohon alih kelola yang lolos evaluasi dan verifikasi dokumen alih kelola di hadapan Panel Alih Kelola, akan disampaikan melalui akun silemkerma masing-masing pengusul;
    5. Pengumuman hasil presentasi – untuk permohonan yang belum memenuhi persyaratan alih kelola, akan disampaikan melalui akun silemkerma masing-masing pengusul;
    6. Visitasi ke lokasi PTS yang akan dialihkelolakan yang lolos presentasi;
    7. Pengumuman hasil visitasi – untuk permohonan yang belum memenuhi persyaratan, akan disampaikan melalui akun silemkerma masing-masing pengusul;
    8. Penerbitan izin alih kelola PTS

    Jadwal, masa permohonan Alih Kelola Perguruan Tinggi, dan tata cara perbaikan hasil evaluasi dapat dipelajari di laman silemkerma.dikti.go.id

     

Pindah Lokasi PTS

  • chevron_right
    Apa yang dimaksud dengan Pindah Lokasi Perguruan Tinggi Swasta (PTS)?

    Usul pindah Lokasi Perguruan Tinggi Swasta dari lokasi kampus sesuai dengan Surat Keputusan pendirian PTS ke lokasi lainnya.

  • chevron_right
    Apa persyaratan Pindah Lokasi PTS?
    1. Usul pindah lokasi PTS disampaikan oleh Badan Penyelenggara PTS yang sesuai dengan SK Pendirian PTS kepada Direktur Jenderal Kelembagaan, Riset, dan Pendidikan disertai dengan alasan pindah lokasi perguruan tinggi.
    2. Pindah Lokasi PTS harus memenuhi Standar Nasional Pendidikan Tinggi, yaitu memenuhi syarat untuk memenuhi peringkat akreditasi minimum. Pemenuhan  Standar Nasional Pendidikan Tinggi dimuat dalam dokumen perubahan PTS yang terdiri atas:
      • studi kelayakan perubahan PTS;
      • rancangan statuta PTS yang baru;
      • rancangan rencana strategis PTS yang baru; dan
      • rancangan sistem penjaminan mutu PTS yang baru.
    3. mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari LL Dikti di wilayah perguruan tinggi berada dan persetujuan dari LL Dikti di wilayah calon kampus yang baru apabila lokasi berbeda.

     

  • chevron_right
    Bagaimana prosedur pindah lokasi PTS?
    1. Penerimaan dokumen pindah lokasi PTS melalui sistem Off-Line, disampaikan langsung ke Direktorat Jenderal Kelembagaan, Iptek, dan Pendidikan Tinggi sementara menunggu sistem On-line disiapkan;
    2. Evaluasi dan verifikasi dokumen pindah lokasi;
    3. Pengumuman hasil evaluasi dan verifikasi – untuk permohonan yang belum memenuhi persyaratan pindah lokasi, akan disampaikan untuk memperbaiki usul dan dokumen;
    4. Presentasi pemohon pindah lokasi yang lolos evaluasi dan verifikasi dokumen;
    5. Pengumuman hasil presentasi – untuk permohonan yang belum memenuhi persyaratan pindah lokasi, akan disampaikan untuk memperbaiki usul dan dokumen;
    6. Visitasi ke lokasi baru PTS (calon kampus baru) bagi yang lolos presentasi;
    7. Pengumuman hasil visitasi – untuk permohonan yang belum memenuhi persyaratan pindah lokasi, akan disampaikan untuk memperbaiki usul dan dokumen;
    8. Penerbitan izin pindah lokasi PTS.

     

Perubahan Nama PTS

  • chevron_right
    Apa yang dimaksud dengan Perubahan Nama Perguruan Tinggi Swasta (PTS)?

    Nama PTS yang sesuai dengan Surat Keputusan pendirian diubah menjadi nama lainnya.

  • chevron_right
    Apa persyaratan perubahan nama PTS?
    1. Usul perubahan nama PTS disampaikan oleh Badan Penyelenggara PTS sesuai dengan SK Pendirian PTS kepada Direktur Jenderal Kelembagaan, Riset, dan Pendidikan disertai dengan alasan perubahan nama perguruan tinggi.
    2. mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Kopertis/ L2 Dikti di wilayah perguruan tinggi berada.

     

  • chevron_right
    Bagaimana prosedur perubahan nama PTS?
    1. Penerimaan dokumen perubahan nama PTS melalui sistem Off-Line, disampaikan langsung ke Direktorat Jenderal Kelembagaan, Iptek, dan Pendidikan Tinggi sementara menunggu sistem On-line disiapkan;
    2. Evaluasi dan verifikasi dokumen perubahan nama;
    3. Pengumuman hasil evaluasi dan verifikasi – untuk permohonan yang belum memenuhi persyaratan perubahan nama, akan disampaikan untuk memperbaiki usul dan dokumen;
    4. Presentasi pemohon perubahan nama yang lolos evaluasi dan verifikasi dokumen;
    5. Pengumuman hasil presentasi – untuk permohonan yang belum memenuhi persyaratan perubahan nama, akan disampaikan untuk memperbaiki usul dan dokumen;
    6. Penerbitan izin perubahan nama PTS.