LEMBAGA LAYANAN PENDIDIKAN TINGGI
WILAYAH V YOGYAKARTA
Jalan Tentara Pelajar Nomor 13 Yogyakarta
IKUTI KAMI
Melawan Covid-19 local_library Universitas Widya Mataram Yogyakarta visibility 94 kali
Angan-Angan Mudik dan Nrimo ing Pandum
18 Mei
2020
Senin,18 Mei 2020

“Pulang Malu, tak Pulang Rindu” adalah sebuah ungkapan yang mungkin sudah tidak asing lagi, terutama mereka yang memilih hidup serta memiliki mata pencaharian yang tidak berada dalam satu daerah asalnya. Di masa pandemi Covid-19 ini, ungkapan tersebut seakan menjadi lebih dalam karena masyarakat tengah berusaha untuk terus bertahan di daerah yang selama ini menjadi tempat menggantungkan hidupnya, namun jauh dari keluarga dan daerah asalnya. Demikian disampaikan oleh Nisfatul Izzah, S.E., M.A., dosen Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Widya Mataram.

Tanggal 23 April 2020 silam, Pemerintah Pusat telah mengeluarkan Permenhub Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19. Dalam pandangan masyarakat, mungkin peraturan tersebut lebih dipandang sebagai larangan untuk mudik. Sebuah peraturan yang dikeluarkan sebagai langkah lanjutan mencegah penyebaran pandemi Covid-19.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang beragama Islam, adanya larangan untuk mudik tentu memiliki dampak psikologis secara sosial dan kultural. Hingga fakta yang terjadi sampai hari ini adalah kita banyak disuguhi informasi mengenai masyarakat yang tidak mampu mematuhi peraturan pemerintah tersebut dan tentu saja, memilih melakukan perjalanan mudik dengan segala resiko yang dihadapi.

Bagaimana dengan masyarakat yang memilih bertahan di lingkungan perkotaan yang bukan merupakan daerah asalnya? “Mereka adalah masyarakat yang telah menjadikan keinginan mudiknya hanya dalam angan-angan”, ucap Nisfatul pada Senin (18/5/2020). Dalam kondisi yang tidak serba menentu akibat pandemi saat ini, mereka lebih memprioritaskan supaya tetap survive di tengah kondisi yang tidak diketahui waktu berakhirnya ini.

Nisfatul menyebutkan sebuah nilai falsafah dalam budaya Jawa, yaitu nrimo ing pandum, yang dimaknai sebagai sikap menerima pemberian apa adanya tanpa berharap lebih, terutama dalam menghadapi musim pagebluk (pandemi). “Pada masa seperti ini, kita berserah diri pada Tuhan dan tetap pada sikap saling membantu sesama manusia, terutama memenuhi kebutuhan pokok, misalnya membeli bahan pangan dari pedagang keliling. Mereka yang tidak bisa bekerja dari rumah, terpaksa keluar demi menyambung hidup dari tangan-tangan kita,” ucapnya

Sumber: http://new.widyamataram.ac.id/content/news/angan-angan-mudik-dan-nrimo-ing-pandum