LEMBAGA LAYANAN PENDIDIKAN TINGGI
WILAYAH V YOGYAKARTA
Jalan Tentara Pelajar Nomor 13 Yogyakarta
IKUTI KAMI
Artikel local_library Akademik dan Kemahasiswaan visibility 283 kali
Apa yang Anda Lihat
31 Jan
2020
Jumat,31 Januari 2020

Pembaca yang kreatif, alkisah seorang maha siswa yang pulang ke kampung halamannya dengan senang hati ikut ambil bagian sebagai tenaga sukarela pada pembangunan tempat ibadah. Si pemuda mulai belajar mengaduk semen, meletakkan bata, melapisi dengan semen, kemudian menaruh bata, menyemen lagi, dan merapikannya lagi. Dengan semangat menggebu, akhirnya setengah tembok berhasil diselesaikan. Lalu dengan perasaan puas, walaupun sedikit lelah, dia berdiri mengagumi tembok hasil kerja pertamanya.

Tiba-tiba, si pemuda melihat sesuatu yang aneh. Ada empat batu bata pertama yang tersusun tidak rapi. Keempat batu bata itu kelihatan lebih menonjol dan miring di antara batu bata lainnya. Timbul rasa kecewa dan tidak puas atas hasil kerjanya. Sesegera mungkin dia menemui pemuka agama untuk mendiskusikan masalah yang mengganggu pikirannya.

Terlihat, batu bata pertama yang dipasang kurang rapi sehingga mengganggu keindahan seluruh tembok, dia meminta kesempatan untuk memperbaikinya dengan cara merobohkan dan memasang ulang batu bata itu. Usulan itu ditolak, dan pemuka agama menyampaikan tidak perlu merobohkan setengah tembok yang sudah naik hanya gara-gara empat bata yang kurang rapi. Si pemuda diminta untuk melanjutkan pekerjaannya. Walaupun dengan rasa kecewa dan tidak puas dengan kenyataan itu, si pemuda dapat menyelesaikan keseluruhan tembok tersebut.

Pembaca yang kreatif, setiap kali melewati batu bata yang kurang sempurna itu, selalu timbul rasa tidak puas dan bersalah yang mengganggu si pemuda. Ia secepatnya berlalu, pura-pura tidak melihat, bahkan sengaja berjalan memutar untuk menghindari pemandangan bata miring tersebut. Sampai suatu hari, ada kunjungan seorang pemimpin dari ibu kota. Mahasiswa tersebut mendampingi mereka berkeliling di tempat itu. Tiba-tiba sang pemimpin menghentikan langkah menatap tem bok di sana dan berkata, "Wah, dinding ini indah sekali." Dengan terkejut, si pemuda lantas bertanya, "Apanya yang indah, Pak? Apakah Bapak tidak melihat empat batu bata yang miring dan mengganggu kesempurnaan seluruh tembok ini?" "Oh ya, saya melihat empat batu bata itu, tetapi saya juga melihat ratusan batu bata lainnya yang bagus! Karena ketidaksempurnaan membuat dinding ini justru tampak indah untuk dinikmati, bukan sekadar dinding kosong yang rata," kata sang pemimpin.

Sejenak si anak muda terpana. Untuk pertama kalinya, sejak tembok itu berdiri, pemuda itu melihat tembok yang sama, dengan kesadaran yang berbeda. Sebelumnya, matanya selalu memperhatikan kesalahan yang telah dilakukan hingga ia selalu ingin menghancurkan seluruh dinding. Dia tidak menyadari tumpukan batu bata yang bagus dan sempurna yang jauh lebih banyak jumlahnya. 

Kebaikan yang banyak dari hasil kerjanya itu seolah tertutupi kesalahan kecil yang ia lakukan sebelumnya.

Pembaca yang kreatif, jika kisah itu kita kaitkan dengan pekerjaan kita sehari-hari. Kadang kita melakukan ketidaksempurnaan atau kekeliruan dalam bekerja. Tapi hal itu terjadi karena kita bekerja.  Pembelajaran dari kekurangan tadi dapat membuat seseorang semakin sempurna dalam melakukan pekerjaannya. Tentu kekurangan orang yang bekerja lebih kita hargai daripada orang yang tidak menghasilkan apa-apa karena hanya santai di tempat kerja. Lebih parah lagi, pekerjaan yang tidak diurus justru menghambat pekerjaan orang lain karena adanya keterkaitan atau kelanjutan pekerjaan itu pada bagian lain.

Lakukan pekerjaan Anda dengan maksimal, belajar terus dari kekurangan, kuatkan semangat Anda mencoba sesuatu yang baru. Tantangan selalu ada setiap saat. Bijak dalam menyikapi tantangan pekerjaan akan mem buat Anda semakin banyak belajar untuk menjadi sempurna.

Sehat dan sukses selalu.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 31 Januari 2020 di Rubrik Inspira halaman 13