LEMBAGA LAYANAN PENDIDIKAN TINGGI
WILAYAH V YOGYAKARTA
Jalan Tentara Pelajar Nomor 13 Yogyakarta
IKUTI KAMI
Artikel local_library Akademik dan Kemahasiswaan visibility 205 kali
Gratitude
07 Feb
2020
Jumat,07 Februari 2020

Pembaca yang kreatif, gratitude (syukur) dipahami sebagai sebuah kondisi dimana rasa terima kasih atau penghargaan yang menga rah pada pengembalian kebaikan. Dalam psikologi positif, syukur termasuk salah satu cara seseorang dalam memperoleh kepuasan diri atas usaha yang sudah dilakukan melalui penghargaan dan rasa terima kasih.

Sering kita mendengar inspirasi ketika seseorang bersyukur maka nikmat lebih yang terus dirasakan oleh orang tersebut. Namun jika seseorang itu tidak pandai bersyukur maka tampak kesusahan dan kekurangan terus yang dirasakan. Jadi sepertinya tidak ada alasan kita untuk tidak mensyukuri apa yang telah kita peroleh saat ini. Dari banyak hal yang telah diperoleh itu, saya mencoba menyebutkan tiga contoh.

Pertama, mensyukuri usaha atau pekerjaan yang dilakukan saat ini. Tidak semua orang men dapatkan kesempatan seperti yang Anda peroleh saat ini. Kita memang ditakdirkan tidak sama. Seorang pegawai dengan gaji tertinggi hingga karyawan toko dengan gaji sangat standar. Keduanya menerima gaji, namun sikap dalam menerima gaji bisa berbeda. Bergantung pada rasa syukurnya. Pendapatan banyak bisa jadi tidak cukup karena masih saja kurang yang disebabkan terlanjur adanya hutang. Penghasilan standar bisa jadi sangat berarti karena masih disisihkan untuk disalurkan pada lembaga atau orang lain yang membutuhkan.

Suatu saat saya berbincang dengan seseorang yang memiliki penghasilan tidak tetap (tidak ada penghasilan bulanan). Pengharapannya kepada Yang Maha Kuasa begitu tinggi karena tidak ada jaminan dia akan punya uang bulan depan. Sebagai sopir harian yang dilakukannya adalah percaya dengan rezeki yang diberikan oleh-Nya. Setiap hari adalah saat-saat tidak menentu. Bekal optimisme usaha dan doa setiap hari dapat memberikan kejutan dengan pendapatan bulanan yang jauh lebih banyak disbanding ketika dahulu menjadi karyawan.

Kedua, mensyukuri anugerah usia yang telah diberikan Allah kepada kita. Usia yang semakin bertambah akan semakin menambah kedewasaan berpikir dan bijak dalam bersikap. Pengalaman hidup sampai saat ini seharusnya membuat seseorang semakin mensyukuri dan memahami penuh makna apa yang telah dilakukan. Contoh sederhana, cobalah lihat pegawai atau orang lain yang usianya lebih muda dari usia Anda. Bagaimana mereka saat ini tengah berjuang memenuhi kebutuhan pribadinya dan keluarganya. Sesuatu yang sudah Anda peroleh, bahkan lebih banyak. Itu adalah permasalahan yang sudah anda lewati. Namun mereka masih harus memulainya.

Ketiga, mensyukuri kesehatan yang didapatkan saat ini. Fisik yang sehat telah membantu kita melakukan berbagai aktivitas. Sehat telah mampu membuat seseorang menghasilkan banyak hal. Nikmat sehat adalah salah satu karunia Tuhan yang paling berharga. Sehat membuat seseorang enteng dalam beribadah. Bersemangat dengan tugas-tugas yang menanti. Saya bertemu dengan beberapa pegawai BNN yang saya kenal baik beberapa waktu lalu. Mereka bercerita penuh energi positif dan bertanya dengan antusias. Nikmat sehat telah membuat kehidupan ini terasa indah.

Pembaca yang kreatif, pada saat Anda menikmati sarapan pagi di sebuah restoran hotel, Anda melihat gelas disebelah kanan anda dalam posisi kosong. Kemudian Anda meminta pramusaji untuk mengisi air putih (mineral) pada gelas Anda tadi. Di luar dugaan, pramusaji hanya menuangkan air sampai batas tengah gelas. Walaupun Anda berusaha memanggilnya, namun pramusaji tadi sudah berlalu. Anda hanya memandang gelas itu. Pertanyaannya adalah, apa yang Anda lihat? Apakah gelas itu setengah isi? Atau gelas itu setengah kosong?.

Pembaca yang kreatif, rasa syukur Anda akan menuntun dalam menjawab pertanyaan itu. 

Sehat dan sukses selalu. 

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 7 Februari 2020 di Rubrik Inspira halaman 13