LEMBAGA LAYANAN PENDIDIKAN TINGGI
WILAYAH V YOGYAKARTA
Jalan Tentara Pelajar Nomor 13 Yogyakarta
IKUTI KAMI
Artikel local_library Akademik dan Kemahasiswaan visibility 275 kali
Memaafkan
22 Mei
2020
Jumat,22 Mei 2020

Pembaca yang kreatif, kalau tangan kanan anda menggenggam emas dan tangan kiri menggenggam kapas, manakah dari ke dua genggaman tadi yang terasa berat? Anda dan saya sepakat yang berat adalah emas. Hal itu disebabkan karena emas itu padat. Sementara kapas terasa lebih ringan. Mengapa? Karena pada kapas terdapat banyak ruang kosong. Maka salah satu cara mengisi ruang kosong itu adalah dengan memaafkan.

Salah satu ciri orang bertaqwa selain senang memberi (berbagi) adalah memaafkan. "(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran [3]: 134).

Pembaca yang kreatif, suatu ketika saya mengisi materi untuk para bapak dan ibu paguyuban pensiunan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pada saat itu seorang ibu bertanya ke pada saya tentang menantunya yang sering berkata kasar kepadanya. Pada saat itu saya tidak langsung menjawab tetapi bertanya kembali pada si ibu tadi. "Bagaimana cara beliau berinteraksi semasa aktif di BUMN dengan rekan kerja atau staf?”  Waktu itu beliau terlihat berpikir. Saya melihat si ibu seperti sedang melakukan refleksi diri (sebuah perenungan pengalaman atau kesalahan masa lalu yang dibarengi dengan introspeksi diri agar menjadi pribadi lebih baik di masa depan). Pemikiran saya, sang ibu tadi sedang dalam proses menahan kekecewaan untuk lebih bersabar dengan sikap menantunya. Dengan mencoba memaafkan maka si ibu berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Kemudian, beliau pun mengucapkan terima kasih.

Pembaca yang kreatif, pernah juga kita mendengar kalimat “Aku maafkan tapi tidak untuk melupakan”. Ada yang bertanya apakah orang ini benar-benar memaafkan? Saya beri dua perumpamaan. Pertama, seperti kita menancapkan paku pada dinding. Ketika dinding yang tadinya bersih maka akibat terkena tancapan paku maka dinding tersebut menjadi berlubang. Walaupun kita cabut pakunya, bekasnya masih tetap ada. Kedua, bagai sebuah danau yang tenang. Jika kita melemparkan batu ke danau tersebut maka kita akan melihat permukaan air danau yang bergelombang. Setelah ditunggu beberapa saat kemudian permukaan danau itu pelan-pelan akan tenang kembali. Namun batu yang sudah dilempar tetap berada di dalam danau.

Pembaca yang kreatif, pada Idul Fitri 1441 Hijriyah nanti, banyak orang akan mengucapkan “Mohon maaf lahir dan batin”. Ucapan mohon maaf bukan hanya sekedar kata-kata, melainkan lebih dari itu. Memaafkan itu berasal dari pikiran dan perasaan. Kata-kata yang kita pilih akan mempengaruhi suasana pikiran, perasaan kita, dan Tindakan orang lain maupun diri Anda sendiri. Kata-kata yang kita pilih bisa mengalirkan energi positif karena kerinduan terhadap sanak saudara yang tidak mudik tahun ini.

Dapat juga dengan apresiasi positif terhadap usaha atau pekerjaan yang ditekuni oleh orang lain. Namun kata-kata juga bisa memunculkan energi negatif, baik bagi pribadi maupun orang lain. Seperti bertanya tentang status pernikahan berulang-ulang kepada yang belum menikah, berkomentar terhadap kondisi fisik seperti kurus dan gemuk, atau bertanya momongan bagi pasangan yang sudah lama menikah namun belum dikaruniai keturunan. Hal ini dapat mengurangi nilai dari silaturahmi karena orang yang ditanya atau dikomentari hanya terlihat diam atau merasa tidak nyaman.

Pembaca yang kreatif, ada baiknya sebelum menyampaikan atau berkomentar tentang suatu hal maka hal tersebut perlu disaring pada pikiran kita terlebih dahulu. Apakah orang akan nyaman dan berkenan dengan pilihan kata yang akan kita sampaikan? Tentunya bulan Ramadhan melatih kita untuk lebih menahan diri dan berdamai dengan keadaan.

Sehat dan sukses selalu.

Tulisan ini digubah dari artikel yang pernah terbit pada harian Republika, pada rubrik Inspira Halaman 24 tanggal 31 Mei 2019