LEMBAGA LAYANAN PENDIDIKAN TINGGI
WILAYAH V YOGYAKARTA
Jalan Tentara Pelajar Nomor 13 Yogyakarta
IKUTI KAMI
Artikel local_library Akademik dan Kemahasiswaan visibility 127 kali
Tindakan Penuh Makna
14 Feb
2020
Jumat,14 Februari 2020

Pembaca yang kreatif, sebuah kisah dari buku Chicken Soup for the Soul menceritakan tentang sebuah keluarga yang sedang antre di counter tiket untuk membeli tiket pertunjukan sirkus. Keluarga itu mempunyai delapan anak. Boleh jadi semuanya masih berumur di bawah 15 tahun. Bisa dikatakan mereka tidak mempunyai banyak uang. Pakaian mereka tidak mahal, tetapi bersih. Anak-anaknya mempunyai sikap yang sangat baik, semuanya berdiri antre dengan tertib, dua-dua di belakang orang tua mereka sambil bergandengan tangan. 

Mereka semua sangat antusias berbicara tentang badut-badut sirkus, gajah, dan hal lain yang akan mereka lihat malam itu. Orang pasti merasa kalau mereka semua belum pernah melihat sirkus. Tampaknya malam itu akan menjadi momen yang sangat penting dalam kehidupan masa remaja mereka. Orang tua mereka berada di depan sambil bergandengan tangan. Penjual tiket menanyakan kepada si Bapak berapa tiket yang dia inginkan. Dengan bangga dia menjawab, "Saya membeli delapan tiket anak-anak dan dua tiket dewasa agar bisa membawa seluruh keluarga saya untuk menonton sirkus."

Penjual tiket itu lalu mengatakan harga tiket yang harus dibayar. Istri lelaki tersebut melepaskan tangan suaminya, kepalanya terkulai. Bibir lelaki itu tampak mulai gemetar. Bapak tadi mendekat sambil memiringkan tubuhnya dan berkata, "Berapa?". Sang penjual tiket pun kembali mengatakan harganya. Uang lelaki itu tidak cukup untuk membayarnya. Apa yang akan terjadi seandainya dia berbalik dan mengatakan kepada delapan anaknya bahwa dia tidak mempunyai cukup uang untuk membawa mereka melihat sirkus? 

Mengetahui apa yang terjadi, Seorang ayah dengan anak yang berusia belasan tahun yang persis antre di belakang si Bapak memasukkan tangan ke saku celananya, mengambil uang 20 dolar dan menjatuhkannya ke lantai. Orang ini membungkuk, mengambil uang tersebut, dan menepuk bahu si bapak sambal mengatakan, "Maaf, Pak, uang ini jatuh dari saku Anda." Bapak dengan delapan anak ini mengetahui maksud orang yang menjatuhkan uang itu. Jelas dia tidak ingin minta bantuan. Tetapi yang pasti dia sangat menghargai bantuan tersebut dalam situasi yang putus asa, menyedihkan dan juga memalukan. Si Bapak menatap wajah orang yang di belakang nya itu secara langsung menyambut tangan orang yang menjatuhkan uang itu ke dalam kedua tangannya. Dia menggenggam erat uang 20 dolar tersebut dengan bibir gemetar dan air mata membasahi pipinya. Dia menjawab, "Terima kasih, terima kasih Pak."

Pembaca yang kreatif, William Wordsworth mengatakan bagian hidup yang terbaik dari kehidupan seseorang adalah tindakan-tindakan kecil yang tak bernama dan tidak pernah diingat mengenai kebaikan dan cinta. Saya bisa merasakan bagaimana perasaan senang si ayah dan anaknya yang telah berbagi Bahagia karena membuat orang lain bahagia.

Pembaca yang kreatif, suatu ketika perjalanan ke kampus, melewati lintasan perumahan ramai, saya melihat di sebelah kanan saya seorang pengemis yang memiliki keterbatasan berjalan dengan kedua tangannya. Melihat itu saya seperti salah tingkah ingin berhenti, tetapi tidak ada tempat yang sesuai, ditambah dengan lalu lintas yang ramai. Berlalu beberapa meter, saya melihat seorang ibu menggunakan topi petani melintas dengan sepeda melewati pengemis tadi. Saya melihat ibu tadi berhenti beberapa meter dan turun lalu berbalik ke arah pengemis tadi sambal memberi uang. Saya hanya bisa tertegun melihat kejadian itu dari spion kanan kendaraan. Si Ibu bisa berhenti, sementara sa ya hanya bisa berlalu. 

Sehat dan sukses selalu.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 14 Februari 2020 di Rubrik Inspira halaman 13